Share Majalah


() views
(1479) views
(1479) views
(1474) views
(1468) views
SAPA REDAKSI
SYAKIR DAN LAIN LAIN
 Share       

Jangan sampai tidak nonton film "Syurga Menanti". Ini film layar lebar, yang bakal mulai digelar di layar lebar April ini.Pemeran utamanya Umi Pipik Dian Irawati. Ia melakonkan peran sebagai ibu dari Daffa, santri cilik penghafal Qur’an.Daffa dalam film besutan Khanza Film itu, tak lain adalah Syakir Daulay. Ia bungsu dari kwartet Daulays, yang semuanya hafal Qur’an di Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Ketapang, Tangerang. Dua kakak Syakir sudah lulus.

Daulay Bersaudara hanyalah satu contoh dari seabreg santri berprestasi di Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an. Baik yang di Pusat (Tangerang) maupun Daerah (Cikarang, Ungaran,Lampung, Banyuwangi). Baik secara pribadi maupun beregu.Berbagai penghargaan telah mereka sabet, misalnya di kejuaraan Olympiade Matematika, MHQ, juga di bidang olahraga (futsal, silat), kepanduan (pramuka), tulis-menulis, dan marching band.

Apa rahasia sukses santri? Mari simak sajian Daqutama edisi ini. Baca juga pengalaman Ustadz Anwar Sani dan istri, dalam mengendalikan perasaan agar putranya betah nyantri. Adab terhadap guru, juga salah satu kunci sukses santri. Nah,bagaimana adabnya, silakan simak uraian Ustadz Ahmad Jameel dalam Konsultasi Pendidikan.Itu saja bocorannya, selamat menandaskan bacaan, semoga beroleh gizi yang sehat untuk akal dan jiwa.

Wassalam

SAPA REDAKSI | SYAKIR DAN LAIN LAIN
(1463) views
(1455) views
MENDARAS
SEDEKAH PINGIN DI BALES

Ustadz Yusuf Mansur

Kita kudu tahu, sedekah itu baru diniatkan saja sudah dibayar banyak sama Allah SWT. Padahal, tangan belum lagi terulur.Hanya saja, bayaran atau balasan dalam spesifikasi khusus yang kita minta, ya kudu sabar dong Karena itu kalau ada yang (masih saja) bertanya, "Sedekah pingin dibalas?" Saya jawab kalau saya mah, iya banget. Masa sama Allah nggak mau diperhatikan, nggak mau dibalas?Coba rasakan bedanya. Kemarin kemarin,ketika sedekah nggak ngarep balasan dari Allah, ingatan pada Allah sebentaran doang.Tapi saat sedekah disertai dengan pengharapan tertentu pada Allah, kita jadi lebih panjang ingat pada-Nya. Keren itu. Allah jadi ingatan terus, ditunggu-tunggu terus balasan-Nya.

Jangan ngarep-arep janji dan bantuan manusia. Omongan orang kaya bahwa dia akan bantu, ditunggu-tunggu, diharap-harap,padahal pasti belum pasti. Seutama-utamanya yang sangat perlu dan super layak ditunggu dan diharap ya Allah. Karena janji-Nya pasti. Wah, kalau gitu, sedekahnya nggak ikhlas dong? Woe, pingin dibalas itu wilayah atau domain doa. Bukan domain niat. Iya, niat lillahi ta’ala, tapi kan boleh berdo’a minta ini-itu kepada Allah. Doa kan ya bebas.Nggak sedekah aja boleh berdoa, boleh minta, boleh ngarep, sama Allah. Tuhan mereka yang butuh, Tuhan tempat berharap.

Apalagi mereka-mereka yang mau bersedekah, mereka ya tambah lagi boleh meminta. Sedekah hendaknya jangan menghalangi seseorang meminta kepada Allah.Tentu, berbeda dalam hal ini boleh. Yang penting jangan jadi benci, buruk sangka, pake tanda seru, ngejek. You better say, “I’m a kalemer.”Khusus Jumat, sedekah bernilai lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Perbanyak sedekah ya.

Jangan takut nggak diganti dan jangan takut minta juga. Allah Maha Pemurah, Maha Luas Karunia-Nya. Nggak bakal dikurangi pahala akhirat. Sedekah itu nggak harus duit. Luaaaaassss sekali bentuk sedekah. Apes-apesnya bisa berupa senyum tulus, bisa waktu, bisa ilmu, bisa tenaga, bisa nanem pohon, dan lain-lain yang banyak sekali.

Rasul SAW memberikan beberapa contohnya dalam hadis yang diriwayatkan dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari: “Setiap Muslim harus bersedekah,’ kata Nabi. Para sahabat berkata, ‘Jika ia tidak menemukan apapun (untuk bersedekah)?’ Nabi SAW berpesan, ‘Hendaknya ia bekerja dengan tangannya sehingga memberi manfaat kepada dirinya dan bisa bersedekah.’ Mereka berkata,‘Jika ia tidak bisa atau tidak melakukannya?’ Nabi berpesan, ‘Hendaknya ia membantu orang yang membutuhkan yang meminta tolong.’ Mereka berkata, ‘Jika tidak ia lakukan?’ Nabi berpesan, ‘Hendaknya ia memerintahkan kebaikan,’ atau Nabi berpesan, ‘Kemakrufan’. Mereka berkata, ‘Jika tidak ia lakukan?’ Nabi berpesan, ‘Hendaknya ia menahan diri dari keburukan karena hal demikian ada pahala sedekah bagi dirinya” (HR al Bukhari dan Muslim).

Rasul SAW juga memberikan contohcontoh kebaikan berupa ketaatan yang bisa mendatangkan pahala seperti sedekah.Di antaranya adalah: Pertama, berlaku adil di antara manusia. Termasuk di dalamnya memutuskan perkara dan melakukan ishlah dengan adil di antara dua orang yang berselisih.

Kedua, membantu orang lain menaiki kendaraan atau mengangkatkan barangnya ke atas kendaraan. Ini mewakili bentuk kebaikan yang member manfaat kepada orang lain,membantunya dalam hal yang dibutuhkan, meringankan kesulitan, dan lain-lain. Termasuk di antaranya: menunjuki jalan, membantu memperbaiki sesuatu, memberi utang,membebaskan utang sebagian atau seluruhnya,memberi tangguh, menuntun orang buta atau orang tua.

Ketiga, dalam bentuk kata-kata yang baik.Termasuk di antaranya, mengucapkan salam,mendoakan, menasihati, amar makruf nahi mungkar, senyum, dan menampakkan wajah berseri.

Keempat, bentuk sedekah yang manfaatnya terbatas pada diri pelaku, seperti berjalan untuk shalat berjamaah, duduk di masjid menunggu shalat, membaca tahlil, takbir,tahmid, tasbih, istighfar, shalawat, membaca al- Quran, mendengarkan kajian, dan sebagainya.Begitu juga dua rakaat shalat dhuha yang dalam satu riwayat dikatakan oleh Nabi SAW bisa memenuhi sedekah untuk semua tulang/sendi pada hari itu.

Kelima, menjauhkan bahaya dari orang lain, seperti menghilangkan duri dari jalanan atau menjauhkan orang dari bahaya lisan dan tangan kita atau orang lain.

MENDARAS | SEDEKAH PINGIN DI BALES

Ustadz Yusuf Mansur

DAQUTAMA
MENGAPA SANTRI BERPRESTASI
 Share       

Tanda-tanda datangnya maut,menghampiri Nabi Ya’qub as. Beliau lalu mengumpukan keduabelas putranya.Bukan, Nabi Ya’qub bukan hendak berwasiat tentang harta yang diwarisannya. Beliau sama sekali tidak khawatir apakah kelak sepeninggalnya anak-anaknya bisa makan. Tapi yang beliau galaukan, apakah putra-putranya tetap istiqomah dengan keimanannya. "Duhai anak-anakku, maadza ta’buduuna min ba’dii? Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?" tanya Nabi Ya’qub as. Anak-anaknya menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak,(yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (QS Al-Baqarah: 133).

Demi mendengar komitmen keimanan anak-anaknya, maka kembalilah Nabi Ya’qub ke haribaan Ilahi dengan senyum puas. Nabi Ya’qub adalah putra Nabi Ishaq as dan cucu dari Nabi Ibrahim as. Sang kakek dulu juga berwasiat hal yang sama,sebagaimana direkam dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 123: “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anakanakku! Sesungguhnya Allah Telah memilih agamaini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (QS Al Baqarah: 132).

Alhamdulillah, dengan sedikit banyak kiprah Daarul Qur’an, kini banyak orangtua yang berpinsip nabawi: maadza ta’buduuna min ba’dii dan bukan maadza ta’kuluuna min ba’dii (apa kalian bisa makan). Mereka menjadikan pesantren, wabil khusus pesantren tahfidz, sebagai prioritas lembaga pendidikan bagi anak-anaknya.Setidaknya hal itu tecermin dari hasil penelitian Abu Bakar bertajuk Preferensi Wali Santri dalam Memilih Pendidikan Tingkat Dasar (2014). Dalam risetnya, Abu Bakar menyidik motivasi wali santri memasukkan anakanaknya ke Pondok Tahfidz Qur’an Al Muqaddasah Nglumpang, Mlarak, Ponorogo, Jawa Timur.Melalui pendekatan kualitatif, penelitian itu menyimpulkan sebagai berikut; Wali santri memiliki persepsi bahwa bahwa sistem pondok dipandang sebagai sesuatu yang strategis, berjalan di atas nilai yang hidup pada jiwa kiyai, guru, dan santri yang digerakkan oleh nilai keikhlasan dan semangat pengabdian.

Adapun faktor dominan yang mempengaruhi wali santri dalam memilih Pondok Al Muqaddasah adalah pendidikan Al Qur’an. Motif ini, menurut penelitian Abu Bakar, didasarkan pada pergeseran kesadaran masyarakat terhadap pendidikan, yaitu peralihan orientasi kerja dari yang berorientasi kapital menuju kepada nilai spiritual. Pilihan sikap ini bagian dari aktualisasi diri para wali yang memiliki kematangan jiwa yang telah bergeser dari materi menuju metamotivation.Motif tersebut juga ditemui pada orangtua santri Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Tangerang. "Tidak ada yang lebih utama daripada membangun keluarga yang dekat dengan Sang Pencipta," tandas Wachid Chozin (39), pemilik Rumah Makan Nasi Jamblang "Bu Nur" yang terkenal di Cirebon, yang juga ayah santri Ponpes Daqu bernama Muchammad Ayyash Hudzaifah Nur Wachid (12).

Bahkan Muhammad Hasan Daulay mewajibkan semua anaknya hafal Qur’an30 juz di Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Tangerang. Camat Peudada, Kabupaten Bireuen, Aceh, ini rela berjalan kaki berkilokilometer di Jakarta dan Tangerang saat mengurus pendidikan keempat anaknya,lantaran kehabisan ongkos. "Pokoknya kalian tidak boleh pulang sebelum khatam hafalan 30 juz," katanya. Alhamdulillah, kini tinggal si bungsu Syakir Daulay (14) yang masih harus menuntaskan hafalannya. Selain hafal Qur’an, empat bersaudara itu juga berprestasi di bidang akademik maupun ekstra kurikuler. Terutama di bidang seni peran.

Daulay Bersaudara hanyalah satu contoh dari seabreg santri berprestasi di Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an. Baik yang di Pusat (Tangerang) maupun Daerah (Cikarang, Ungaran, Lampung,Banyuwangi). Baik secara pribadi maupun beregu. Berbagai penghargaan telah mereka sabet, misalnya di kejuaraan Olympiade Matematika, MHQ, juga di bidang olahraga (futsal, silat), kepanduan (pramuka), tulis-menulis, dan marching band.

Apa rahasia sukses santri? Menurut Suryabrata (2002) faktorfaktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa atau santri meliputi faktor dari dalam diri siswa (internal). Hal ini meliputi:

1. Faktor psikis yaitu: IQ, kemampuan belajar, motivasi belajar, sikap dan perasaan , minat dan kondisi akibat keadaan sosiokultural.

2. Faktor fisiologis, Keadaan tonus jasmani pada umumnya, hal tersebut melatarbelakangi aktivitas belajar,keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang kurang segar. Kmeudian juga keadaan fungsi-fungsi fisiologis tertentu. Adapun faktor dari luar diri siswa meliputi:

1. Faktor pengatur belajar mengajar di sekolah yaitu kurikulum pengajaran, disiplin sekolah, fasilitas belajar,pengelompokan siswa

2. Faktor-faktor sosial di sekolah yaitu sistem sekolah, status sosial siswa, interaksi guru dengan siswa.

3. Faktor situasional yaitu keadaan social ekonomi, keadaan waktu dan tempat, dan lingkungan.

Veri Edi Santoso, dalam skripsi sarjananya pada Program Studi Psikologi Universitas Negeri Malang (2009), meneliti hubungan antara motivasi berprestasi dan persepsi terhadap Pesantren dengan prestasi belajar santri. Riset yang berlangsung di Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang itu menunjukkan, motivasi dan persepsi santri terhadap pesantren berpengaruh pada prestasi yang bersangkutan.Seperti disampaikan Ustadz Yusuf Mansur, orangtua santri harus percaya dan ikhlas melepas anaknya nyantri di Daarul Qur’an. "Di pesantren manapun pasti ada masalah, ada kekurangan ini-itu. Santri sih lama-lama enjoy aja, cuma kadang orangtuanya yang kelewat galau. Ini yang turut mempengaruhi kesuksesan santri," tuturnya.

DAQUTAMA | MENGAPA SANTRI BERPRESTASI
DAQUTAMA
SYAKIR TAK BOLEH PULANG SEBELUM HAFAL 30 JUZ
 Share       

Ribuan orang memadati halaman Pendopo Kantor Kabupaten Bireuen, Aceh, untuk menyimak taushiyah Ustadz Yusuf Mansur pada Ahad malam, 11 Oktober 2015.Pengajian ini guna menyongsong Hari Ulang Tahun Kabupaten Bireuen ke-16 yang jatuh pada Senin, 12 Oktober 2015. Seorang remaja asli Bireuen tampak mendampingi Ustadz Yusuf. Dialah Syakir Daulay (13), santri penghafal Quran dari Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Tangerang yang didirikan Ustadz Yusuf Mansur.

Malam itu, Syakir yang biasa menjadi penguji calon peserta Wisuda Akbar Indonesia Menghafal Qur’an, menjadi bintang kebanggaan masyarakat dan Pemkab Bireuen. Tentu saja, santri bertubuh mungil yang mengumandangkan adzan maghrib di Global TV (2010-211) dan Trans7 (2012) itu bungah. Namun, di tengah suka cita tersebut, tak urung Syakir sedih. Bagaimana tidak. Dia sudah berada di kabupaten kelahirannya, tetapi tidak bisa sekadar menjenguk rumah orangtuanya sendiri di Kecamatan Kota Juang. Rumah yang menyimpan kenangan masa kecilnya walaupun sederhana.

Pasalnya, Syakir terikat "kontrak"dengan ayahnya, Muhammad Hasan Daulay. Kata sang ayah saat melepas Syakir bersekolah ke SD Daarul Qur’an Tangerang pada 2010, "Jangan pulang sebelum hafal 30 juz!" Nah, saat di Bireuen itu, hafalan Syakir baru memasuki 10 juz. Belum khatam seperti kakak-kakaknya. Syakir dan ketiga kakaknya bersekolah dan nyantri di Daarul Qur’an. Hamimi Daulay (23) dan Dzikri Daulay (21) sudah lulus SMA. Sedang Fauzan Daulay (18) sudah hafal 30 juz dan sekarang kelas XII SMA. Syakir Daulay masih SMP. "Kami semua disekolahkan Ustadz Yusuf Mansur,"ungkap Syakir, yang lahir di Bireuen pada 10 Januari 2002.

Syakir yang kini sudah mulai banyak "order" seperti menjadi pengumandang adzan, juri, dai cilik, bintang film dan sinetron, mengaku terharu dengan kasih sayang orangtuanya, M Hasan Daulay dan Ny Nazariyah. Misalnya, mereka tetap memberinya biaya hidup dan pendidikan. "Ini saya lagi ada kebutuhan seperti buat bayar Ujian Nasional Rp 6 juta. Orangtua tetap ngasih uang itu, padahal saya sendiri adalah tabungan untuk itu.

Tapi kata orangtua, sudah biar kami aja yang bayar," tutur Syakir kepada Daqu belum lama ini. Syakir yang beberapa kali sepanggung dengan Ustadz Jeffry Al Bukhori (alm) dan kini main film "Syurga Menanti" bersama Umi Pipik Dian Irawati, bercita kelak mendirikan pesantren. "Insya Allah nanti jika uang terkumpul, saya pengen bikin pesantren," kata penggemar futsal ini.Atas nasehat Ustadz Yusuf Mansur,Syakir tidak mau terlena dalam dunia selebritas. Ia tetap meneruskan hafalannya hingga tuntas 30 juz, biar bisa pulang kampung. "Saya kencengin juga tahajjud dan dhuha serta ngafalnya, biar cepat khatam,"tekad Syakir, cucu dari Tgk Achmad Daulay asal Maga Lombang Kota Nopan, Madina, Sumatera Utara. Mengutip Ustadz Yusuf, amalan Syakir itulah yang membawa perubahan positif dalam kehidupan keluarganya. Misalnya,sang ayah yang tadinya pegawai sipil biasa, kini jadi camat Peudada.
 

DAQUTAMA | SYAKIR TAK BOLEH PULANG SEBELUM HAFAL 30 JUZ
DAQUTAMA
KEAJAIBAN RIAN FADIL HIDAYAT
 Share       

Tulang tengkorak kepala Rian hancur seluas kira-kira 32 cm persegi.Serpihan-serpihan kayu pintu lemari yang menimpanya, berceceran bersama darah di kepala yang bolong itu.Bahkan ada serpihan kayu sepanjang 2 cm yang menancap di otak bagian kirinya.Ustadz Usman, yang mengantar Rian ke klinik, nyaris menyerah. Bahkan ia sempat hendak memesan mobil jenazah & pemandiannya, mengingat saat itu keadaan Rian sangat kritis sehingga dokter pun angkat tangan.

Hanya keajaiban dari kuasa Allah SWT yang bisa menyelamatkan Rian dari kematian.Diiringi dzikir, doa, dan sholawat yang tak putus dari asaatidz serta santri Daarul Qur’an, alhamdulillah keajaiban itu datang.Detak jantung Rian tampak berdenyut kembali di layar monitor.Rian lalu dioperasi, meskipun kata dokter dengan resiko, "Cacat berat, atau innalillahi bila memang sudah takdirnya." Subhanallah, it’s amazing! Sepekan setelah operasi pertama, Rian sudah dapat berbicara. Para pimpinan Yayasan dan Ustadz Pengasuhan terharu mendengar mulutnya bersholawat dan muraja’ah hafalan Qur’an. Dari 7 juz hafalan Qur’annya, sama sekali tidak ada yang hilang dari memori Rian. Maha Benar Allah SWT dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sungguh Kami benar-benar menjaganya.” (QS Al Hijr: 9).

Kini, Rian Fadhil Hidayat, sudah kelas 10 SMA Daqu. Dan dia sudah khatam hafal 30 juz Qur’an. Ini pula yang diyakininya membawa berkah bagi kedua orangtua.Berhari-hari menunggui Rian anaknya di Rumah Sakit Husada Insani Tangerang,Cahyo Wiranto akhirnya kehilangan pekerjaan. Pun istrinya, Ny Esti Rohati,habis masa kontraknya sebagai instruktur bagi TKW di Taiwan dan tak diperpanjang lagi.

Namun tak lama kemudian, suami-istri asal Purwekerto, Jawa Tengah, ini kembali mendapat pekerjaan. Sang istri dipercaya kawannya untuk mengelola perusahaan mebeleir, dan sang suami bekerja sebagai teknisi di perusahaan yang sama.Rian sendiri, yang aktif di unit kegiatan menulis sekolahnya, selepas musibah mampu melahirkan buku tentang pengalamannya itu. Selain menulis, Ria juga aktif di kepanduan, sebagai sekretaris tim kepramukaan. "Saya ingin menjadi tokoh perubahan,seperti yang diteladankan idola saya Rasulullah SAW," tekad Rian, yang sudah merampungkan buku keduanya yang berjudul #twiteran.

DAQUTAMA | KEAJAIBAN RIAN FADIL HIDAYAT
AJIB
HJ.ISMAIL BANGUN PONDOK USAI MIMPI
 Share       

Ny Sugiyatmi terperanjat. Sedang duduk-duduk di teras Masjid Maryam di samping rumahnya, tibatiba muncul Ustadz Yusuf Mansur. Da’I muda itu menggandeng seorang anak lelaki, tampaknya sang anak. Keduanya mengenakan pakaian ihram. “Ayo, Bu,”tiba-tiba si anak menggandeng tangan Ny Sugiyatmi. Mengajak jalan menuju makam suaminya di samping masjid. Ternyata, makam itu kebanjiran.

Demikian mimpi aneh yang dialami Ny Sugiyatmi (71) dua tahun lalu. Menurutnya,bunga tidur itu hadir lantaran dirinya memang ingin sekali bersua Ustadz Yusuf Mansur, yang baru dikenalnya sejak 2012. “Setelah mengenalnya, saya senang membaca buku-bukunya. Lalu saya ingin sekali bertemu, untuk menyedekahkan apa yang saya punya,” kenang pemilik Rumah Makan Taman Sari yang terkenal di Solo, Jawa Tengah, ini.

Dari mimpi itulah, Ny Sugiyatmi lalu bertekd membangun pondok pesantren di sekitar masjid. Inilah cikal bakal markas Daarul Qur’an Solo di areal seluas 3000 meter persegi.Patungan dengan Ny Sindu putrinya, Ny Sugiyatmi membeli kapling tanah di sebelah masjid seharga Rp 1,6 Milyar. Di atasnya lalu dibangun pondok.Peletakan batu pertama pada 3 September 2013 oleh Ustadz Yusuf Mansur. Persis dua tahun kemudian, 3 September 2015, pondok itu kelar.

Bangunan utama pondok tersebut, atas saran Adib Ajiputra, pengusaha Solo kawan Ny Sugiyatmi,dinamakan Gedung Ismail. “Kalau ditanya habisnya berapa buat membangun Gedung Ismail, saya nggak tahu. Pokoknya niat saya sedekah,” kata Ny Sugiyatmi sambil tersenyum.Ia mengungkapkan, sebenarnya dirinya ingin membangun taman wisata di areal RM Taman Sari yang lahannya seluas 1 hektar.“Sebenarnya saya itu pingin membangun areal wisata di samping Taman Sari. Jadi, orang yang sedang bepergian bisa mampir makan saya sekalian wisata, mandi berenang, bermain, gitu. Tapi saya dahulukan membangun pondok. Saya minta ridho Allah sajalah.”

Tak hanya bersedekah makan untuk penghuni pondok, Ny Sugiyatmi juga turun tangan langsung mengajari santri untuk menjaga kebersihan dengan menyapu dan ngepel lantai.

“Saya ajarkan, sehabis makan piringnya dicuci langsung. Saya juga minta para santri mencuci baju sendiri. Akhirnya mereka bisa juga,” tuturnya senang.

AJIB | HJ.ISMAIL BANGUN PONDOK USAI MIMPI
AJIB
YENI AMBARYATUN HIDUP BUAT ORANG LAIN
 Share       

Saat “seharusnya” menangis, dia malah tersenyum. Dan ketika “semestinya” tersenyum, dia malah menangis.

Itulah Bu Yeni –sapaan Hj Yeni Ambaryatun SH, MM (59). Suatu ketika, rekan-rekan dan para karyawannya menangis lantaran rejeki “kakap” yang sudah terbayang di depan mata,melayang. Order pengurusan akta notaris dari Pemda DKI, ternyata di-pending. Tapi, Bu Yeni justru tenang-tenang saja. “Ngapain nangis, rugi amat, rejeki kan sudah diatur sama Allah SWT. Kalau memang rejeki kita, mau ke mana. Kalau bukan rejeki kita, mau gimana,” katanya kalem.

Level keyakinan Bu Yeni pada Allah itu salah satu yang membuat Ustadz Yusuf Mansur sangat menaruh respek padanya. Ditambah prinsipnya “hidup buat orang lain”, menjadikan Ustadz Yusuf tak segan menganggapnya seperti ibu sendiri. Namun saat ditanya kebiasaannya mengumrohkan orang lain hingga sudah lebih seratusan jumlahnya, warga Ciputat, Tangerang Selatan, ini malah menangis. Terlebih ketika diminta Ustadz Yusuf memberikan testimony pengalaman bersedekah di hadapan lautan manusia yang memenuhi Masjid Istiqlal, Bu Yeni tak mampu berkata-kata. Hanya airmata dia yang bicara.

Bu Yeni yang berprofesi sebagai notaries dan dosen keliling, menuturkan, ia mulai mengenal Ustadz Yusuf Mansur sejak 2007. Dari ustadzmuda ini pula ia belajar “matematika sedekah”.Waktu itu, Bu Yeni hendak mantu pada Juli 2007. Pernikahan membutuhkan biaya minimal Rp 300 juta. Uang yang ada, jauh dari cukup buat menutupinya. Bu Yeni lalu curhat galau kepada Ustadz Yusuf Mansur.“Gini deh, Bu Yeni butuh duit berapa buat acara perkawinan? Rp 300 juta? OK, coba Ibu sedekah dulu Rp 30 juta, insya Allah ntar ketutup itu biaya,” kata Ustadz Yusuf, sambil mengajarkan riyadhoh seperti sholat dhuha, tahajjud, dan puasa sunat.Bu Yeni malah kian galau. “Duit Rp 30 juta buat sedekah? Duit cash dari mana ya?”batinnya.

Saat sedang bingung, bertemulah Bu Yeni dengan seorang ustadz kampung yang sedang merampungkan pembangunan sebuah mushola. “Tinggal kurang kubahnya aja Bu,”kata sang ustadz.Akhirnya, Bu Yeni melego gelang emasnya. Dia suruh pembantunya menjual perhiasan itu,dan memberikan uangnya kepada ustadz tadi.“Alhamdulillah, mushola jadi, dan pernikahan anak saya juga berlangsung lancar,” kenang istri dari H Supardi ini.

Nah, sejak itulah, bersedekah menjadi kebutuhan hidup Bu Yeni. Ibu dari tiga anak dan nenek dari 5 cucu ini bersedekah tanpa hitung-hitungan lagi; Berapa, kapan, dan dalam kondisi bagaimanapun, dia bersedekah.Baik dalam bentuk jasa profesional maupun finansial.Termasuk membantu perkembangan PPPA Daarul Qur’an sejak awal hingga kini.Salah satu kebiasaan Bu Yeni adalah menghajikan dan mengumrohkan orang lain.Kalau ada tetangganya yang bilang kepadanya:“Bu Haji, kapan saya bisa berangkat?” maka Bu Yeni mengatakan, “Ya, doakan saja, nanti pas waktunya bisa berangkat insya Allah.”

Bu Yeni kemudian “mengadvokasi” hajat orang yang pingin umroh kepada Allah. Dia minta hadirkan rejeki yang banyak melalui kerjanya untuk membiayai mimpi-mimpi umroh orang lain.Tentu, tidak begitu saja Allah SWT mengabulkan doa dan ikhtiarnya. Pernah misalnya, Bu Yeni harus tertipu dulu sebesar Rp 700 juta dalam ikhtiarnya. Alhamdulillah dengan sikap tawakalnya, rejeki yang dirindukan tiba. Sehingga, dengan rejeki itu, berangkatlah keluarga karyawannya sebanyak 83 orang pergi umroh.

AJIB | YENI AMBARYATUN HIDUP BUAT ORANG LAIN
AJIB
Mama,Fatih Nyuci Sendiri  
 Share       

Percayalah, jika anak kita nyantri, di balik setiap kabar "kesedihan" pasti ada kebahagiaannya. Seperti ketika kami mendengar pengalaman pertama anak kami, Mas Fatih, mencuci baju sendiri di Pesantren Gontor Ponorogo.
Saat masih tinggal bersama kami orangtuanya,Mas Fatih banyak dilayani asisten rumah tangga kami. Mulai dari dibangunkan tidur, disediakan perlengkapan mandi, hingga peralatan dan seragam sekolah pun disiapkan oleh bibi pembantu kami.

Demikian juga soal uang saku, Mas Fatih biasa hit and run. Minta, dikasih,belanjakan, selesai.Tidak perlu memikirkan perencanaan cash flow segala. Manajemen keuangan itu urusan orangtuanya. Tentu saja, kebiasaan seperti itu tidak boleh berkelanjutan. Tidak bagus untuk kemandirian anak kelak.Itulah yang membuat saya semakin mantap untuk memasukkan Mas Fatih ke pesantren.Di manapun, yang namanya pesantren pasti mengajarkan kemandirian. Termasuk kemandirian untuk mencuci pakaian santri sendiri. Bahkansebelum masuk Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an,calon santri sudah dilatih untuk cuci baju. Mislanya,murid TK dan SD Daarul Qur’an Ketapang Tangerang,setiap Sayyidul Ayyam (hari paling mulia dalam sepekan yaitu Jumat), berolah raga dan membersihkan area sekolah serta mencuci baju masing-masing.

Di Pondok Modern Gontor, mencuci pakaian termasuk aktivitas santri yang diatur dalam Panca Jiwa Pondok Modern Gontor. Beberapa kegiatan tersebut adalah sebagai aktualisasi nilai-nilai yang tersirat dalam Panca Jiwa, yaitu: (1) Shalat malam dan membaca Al-Qur'an yang dilaksanakan dengan secara khusyu' dengan penuh kesadaran adalah cermin nilai-nilai keikhlasan sebagimana yang tersirat dalam Panca Jiwa;

(2) Pakaian rapi dan sejenis, tidak ada yang memakai pakaian yang nyleneh seperti baju kotak- kotak, batik, jins, adalah cermin kesederhaan. Baik dari keturunan orang kaya dan orang yang miskin, semunya dilatih dengan pola hidup sederhana.Ini adalah cermin dari jiwa kesederhaan;

(3) Aktifitas ritual ibadah sholat yang selalu dilaksanakan berjamaah adalah cermin dari ukhuwah Islamiyah yang selalu menjadi jiwa hidup pesantren;

(4) ketepatan waktu dalam melaksanakan setiap aktifitas adalah juga merupakan muraqabah dan cermin dari jiwa disiplin positif sebagaimana yang dimaksud dalam jiwa kebebasan yakni bebas dari garis-garis disiplin dengan penuh tanggungjawab,baik dalam kehidupan pondok pesantren itu sendiri maupun dalam kehidupan masyarakat;

(5) kegiatan santri belajar, kebersihan lingkungan sendiri, mempersiapkan sekolah sendiri dan lain sebagainya adalah cermin dari nilai-nilai yang tersirat dalam jiwa berdikari, yang mana santri harus belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri.

Itu semua adalah merupakan proses internalisasi nilai-nilai luhur agar santri memiliki budaya terpuji. Tidak ada kesempatan sedikitpun untuk menghiduipkan sifat-sifat tercela.Di hari pertama mondok, Mas Fatih menangis saat saya tinggalkan. Diam-diam saya juga menangis dalam hati. Betapa tidak. Inilah hari pertama ketika kami harus mulai hidup terpisah, setelah bertahun-tahun tinggal serumah.Hari kedua dan ketiga, Mas Fatih masih seringmenelpon orangtuanya. Bahkan dalam sehari bisa menelepon sampai 3 kali, seperti minum obat dokter saja.

Usai bertelepon hari pertama dan kedua, kami bertangisan. Walaupun itu tidak kami tunjukkan pada anak kami.Telepon pada hari ketiga, kami menangis sekaligus bahagia. "Mama, apa kabarnya, alhamdulillah Fatih sudah dapet temen di sini," kata Fatih berbicara dengan ibunya. "Alhamdulillah kalau gitu. Oya, Mas Fatih udah 3 hari di pesantren, pasti sudah ada baju kotornya ya. Dibawa ke tempat laundry aja ya Mas," tutur istri saya.Jawaban Fatih ternyata di luar dugaan. "Nggak Ma," katanya ringan. "Fatih nggak usah bawa baju kotor ke laundry. Fatih nyuci sendiri…."

Masya Allah, kami menangis terharu dalam hati. Setelah bertahun-tahun pakaian selalu dicucikan, inilah saatnya Fatih mencuci baju sendiri. Tak terbayangkan, tangannya yang mungil dan halus,harus mengucek baju dengan air sabun cuci.Setelah menenangkan perasaan yang berkecamuk antara haru dan bahagia, istri saya berkata, "Mas Fatih, Mama bangga sama Fatih. Anak Mama hebat. Tapi, ngomong-ngomong, kenapa nyuci sendiri, Mas?" "Soalnya temen-temen Fatih pada nyuci sendiri, jadi ya Fatih nyuci sendiri deh. Seru Ma, bareng sama temen-temen nyuci berjamaah," tuturnya dengan nada riang. "Masya Allah… Subahanllah… hebat hebat,"mamanya memberi semangat. Saya yang nguping pembicaraan mereka,turut bangga. Tak terasa, air mata bahagia meleleh di pipi.

Ya, Mas Fatih mulai belajar hidup. Hidup yang sesungguhnya. Mulai dari yang kecil; Mencuci pakaian sendiri, mengatur keuangan sendiri, mempersiapkan peralatan belajar sendiri....Mari kita berterima kasih kepada pesantren yang telah mendidik anak-anak kita menjadi manusia mandiri. Kekhawatiran orangtua santri di awal-awal anak nyantri, itu manusiawi. Tapi kekhawatiran yang berlebihan dan berkepanjangan,akan menghambat kemandirian anak.

AJIB | Mama,Fatih Nyuci Sendiri  
KONSULTASI SYARIAT
Sedekah Untuk Penghafal Al Qur'an KH. Ahmad Kosasih MA

 
 Share       

Assalamu ‘alaikum Ustadz, teman saya sering mengirim makanan untuk santri-santri rumah tahfidz di dekat rumahnya. Katanya biar dapat barokah. Apa begitu Ustadz, mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalam.
Ny Diah Bekasi

Jawab: Wa ‘alaikum salam, Ny Diah. Ya, dan justru Anda seharusnya iri pada teman Anda itu.Iri adalah salah satu penyakit hati. Istilahnya, SMS: Senang Melihat (orang lain) Susah, dan Susah Melihat (orang lain) Senang.Namun, ajaran Islam tidak melarang mutlak semua bentuk iri. Bahkan, ada rasa iri yang seharusnya ditumbuhkan. Apa itu?

"Dilarang iri kecuali pada dua hal: Orang yang dikaruniai kefahaman Qur’an sedang dia membaca dan mengamalkannya siang dan malam, dan orang yang dikaruniai harta sedang dia menginfakkannya siang dan malam" (HR Bukhari Muslim dari Ibnu Umar ra).

Tuh, kan, kita harus iri pada kedermawanan orang lain.Maksudnya, harus ditiru kebaikannya, bahkan kalau bisalebih baik lagi. Fastabiqul khoirot, namanya. Kita juga harus iri kepada Penghafal Al Qur'an yang memperoleh kedudukan begitu mulia. "Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya" (HR Bukhari dan Muslim).

"Siapa yang membaca satu huruf dari Al Qur'an maka baginya satu hasanah, dan hasanah itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf" (HR At-Turmudzi).

Padahal, jumlah huruf dalam satu mushaf Qur’an, lebih dari sejuta. Al-Imam Asafi’i dalam kitab Majmu al Ulum wa Mathli ’u an Nujum dan dikutip oleh Imam Ibn ‘Arabi dalam Mukaddimah al-Futuhuat al Ilahiyah menyatakan jumlah huruf dalam Al Qur ’an adalah 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu). Ini sudah termasuk jumlah huruf ayat yang di-nasakh.

Para Penghafal Qur’an adalah pasukan penjaga orisinilitas Kitabullah. Allah SWT menandaskan dalam Al Qur’an: Sungguh kami yang menurunkan Qur’an dan kami yang menjaganya (QS Al Hijr: 9).Pakar tafsir Prof Quraish Shihab menjelaskan, bila Allah Swt menyebut diri dengan "kami" berarti ada keterlibatan andil manusia di dalamnya. Dalam hal ini adalah para penghafal Qur’an dan pengawal kemurniannya.

Para shahabat yang hafal Al Qur`an pada masa Nabi Muhammad SAW tak terhitung jumlahnya.Antara lain: Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah,Zaid bin Tsabit, Amr bin Ash, Ibnu Zubair, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, ‘A`isyah, Hafshah, Umma Salamah (Al Hasan, 1983). Shahabat penghafal Qur`an yang mati syahid di Perang Yamamah lebih dari 70 orang. Demikian pula yang syahid dalam peristiwa Bi`r Ma’unah sekitar 70 orang (Ash Shabuni, 1985).

Mereka mendapat penghormatan luar biasa dari para shahabat yang lain. Anas ra berkata,“Bila salah seorang mampu membacakan surah Al-Baqoroh dan Ali Imron, maka ia memiliki kedudukan terhormat di mata kami”. Bertutur pula Ibnu Abbas ra: “Dulu, para Penghafal Al Qur’an adalah anggota majelis dan musyawarah Khalifah Umar bin Khotthob, baik dari kalangan tua maupun yang muda.”Bahkan pemuliaan terhadap Penghafal Al Qur’an juga sampai ketika wafatnya. Dalam Perang Uhud, Rasulullah SAW meminta didahulukan menguburkan syuhada Uhud yang paling banyak hafalannya (HR Bukhori).

Begitulah, dulu, kini, dan kelak, derajat manusia tergantung pada Kitabullah. Sebagaimana wasiat Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Kitab (Al-Qur’an) dan merendahkan (kaum) yang lain” (HR Muslim).Generasi Qur’ani adalah "keluarga" Allah di bumi ini. "Sungguh," kata Nabi Muhammad SAW,"Allah mempunyai keluarga di antara manusia."Para sahabatpun bertanya, "Siapakah mereka ya Rasulallah?" Rasul menjawab, "Para ahli Al Qur'an.Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan Nya" (HR Ahmad).

Karena itu, Penghafal Qur’an sehari-harinya harus menjaga hafalannya dengan hiasan ibadah dan akhlak yang karim. Berpesan Abdullah bin Mas’ud ra: “Selayaknya Para Penghafal Quran terbedakan saat malamnya ketika manusia terlelap,tatkala siangnya ketika manusia berbuka, tatkala sedihnya ketika manusia bergembira, tatkala menangisnya ketika manusia tertawa, tatkala diamnya ketika manusia banyak bicara, dan dengan kekhusyuannya ketika manusia lalai.”

Salah satu sifat Penghafal Qur’an, adalah menjaga ‘izzah (martabat) diri, misalnya tidak meminta-minta. Orang lainlah yang harus mengerti keadaan para Penghafal Qur’an, dan membantu mereka agar terpenuhi hajatnya tanpa mengurangi martabatnya. Memuliakan seorang penghafal (Hafidz) Al Qur'an berarti mengagungkan Allah SWT.Rasulullah SAW berpesan, "Sungguh termasuk mengagungkan Allah, (siapa yang) menghormati orangtua muslim, penghafal Al Qur'an yang tak melampaui batas dan tidak menjauhinya (enggan membaca dan mengamalkannya), dan penguasa yang adil" (HR Abu Daud). Semoga dengan sedekah kepada para Penghafal Qur’an, kita dipantaskan untuk menjadi "keluarga" Allah SWT.

KONSULTASI SYARIAT | Sedekah Untuk Penghafal Al Qur'an KH. Ahmad Kosasih MA

 
KONSULTASI PENDIDIKAN
ADAB TERHADAP GURU
 Share       

Wa’alaikum salam, Ibu Rahayu. Walaupun bermaksud melucu, rekaman video dimaksud yang sudah banyak beredar di media sosial itu memang tidak pantas.Sesungguhmya adab yang mulia adalah salah satu faktor penentu kebahagiaan dan keberhasilan seorang murid atau santri.

Begitu juga sebaliknya, kurang adab atau tidak beradab adalah alamat (tanda) jelek dan jurang kehancurannya. Tidaklah kebaikan dunia dan akhirat kecuali dapat diraih dengan adab, dan tidaklah tercegah kebaikan dunia dan akhirat melainkan karena kurangnya adab (Madarijus Salikin, 2/39).

Di antara adab-adab yang telah disepakari adalah adab murid kepada syaikh ataugurunya. Imam Ibnu Hazm berkata: “Para ulama bersepakat, wajibnya memuliakan ahli al-Qur’an, ahli Islam dan Nabi. Demikian pula wajib memuliakan kholifah, orang yang punya keutamaan dan orang yang berilmu” (al-Adab as-Syar’iah 1/408).

Berikut ini beberapa adab yang selayaknya dimiliki oleh penuntut ilmu ketika menimba ilmu kepada gurunya.

1. Memuliakan guru

Memuliakan orang yang berilmu termasuk perkara yang dianjurkan. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَفِ لِعَالِمِنَا

yang tidak menghormati orang yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengerti hak ulama kami.” (HR. Al-Bazzar 2718, Ahmad 5/323, lafadz milik Al-Bazzar. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shohih Targhib 1/117) Imam Nawawi rahimahullah berkata:

“Hendaklah seorang murid memperhatikan gurunya dengan pandangan penghormatan.Hendaklah ia meyakini keahlian gurunya dibandingkan yang lain. Karena hal itu akan menghantarkan seorang murid untuk banyak mengambil manfaat darinya, dan lebih bisa membekas dalam hati terhadap apa yang ia dengar dari gurunya tersebut” (Al-Majmu’ 1/84).

2. Mendo’akan kebaikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ أَتَ إِليْكُم مَعْروفاً فَكَافِئُوه فَإِنْ لَمْ تَجِدوا

فَادْعُوا لَهُ، حَتَّى يَعلَمَ أن قَد كَافَئْتُمُوه

“Apabila ada yang berbuat baik kepadamu maka balaslah dengan balasan yang setimpal.Apabila kamu tidak bisa membalasnya, maka doakanlah dia hingga engkau memandang telah mencukupi untuk membalas dengan balasan yang setimpal.” (HR. Bukhori dalam al-Adab al- Mufrod no. 216, lihat as Shohihah 254) Ibnu Jama’ah rahimahullah berkata: “Hendaklah seorang penuntut ilmu mendoakan gurunya sepanjang masa. Memperhatikan anakanaknya, kerabatnya dan menunaikan haknya apabila telah wafat” (Tadzkirah Sami’ hal. 91).

3. Rendah diri kepada guru

Ibnu Jama’ah rahimahullah berkata:“Hendaklah seorang murid mengetahui bahwa rendah dirinya kepada seorang guru adalah kemuliaan, dan tunduknya adalah kebanggaan.” (Tadzkirah Sami’ hal. 88) Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan kemuliaan dan kedudukannya yang agung, beliau mengambil tali kekang unta Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu seraya berkata: “Demikianlah kita diperintah untuk berbuat baik kepada ulama.” (As Syifa, 2/608)

4. Mencontoh akhlaknya
Hendaklah seorang penuntut ilmu mencontoh akhlak dan kepribadian guru. Mencontoh kebiasaan dan ibadahnya. (Tadzkirah Sami’ hal. 86) Imam as Sam’ani rahimahullah menceritakan bahwa majelis Imam Ahmad bin Hanbal dihadiri lima ribu orang. Lima ratus orang menulis,sedangkan selainnya hanya ingin melihat dan meniru adab dan akhlak Imam Ahmad. (Siyar AlamNubala, 11/316)

KONSULTASI PENDIDIKAN | ADAB TERHADAP GURU
KONSULTASI HALAL
PENYEMBELIHAN YANG BERPERIKEHEWANAN
 Share       

Kliwon gelisah. Kepalanya menggeleng-geleng, matanya melirik-lirik.Empat orang kekar mengepungnya. Ia mulai meradang, ketika mereka menjerat dua kakinya dengan tali plastik sebesar jempol orang dewasa.Gedebug! tubuh tambun Kliwon terbanting ke tanah begitu keempat pengeroyoknya menarik tali itu sekuat tenaga. Sorak sorai penonton menenggelamkan lenguh kesakitan Kliwon. Belum cukup sampai di situ,seorang pengeroyok menginjak lehernya, lalu menggoroknya dengan sebilah golok besar bermata mengkilap. Grogkkhhhh.... darah segar membanjir dari leher Kliwon, diiringi rintihan terakhir sebelum al Maut menjemputnya. Sapi itupun mati.

Kita lazim menyaksikan drama kematian banyak Kliwon lain setiap Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan tiga hari Tasyri’ berikutnya (11-13 Dzulhijjah). Mereka dipersembahkan untuk kaum fakir miskin, dari kalangan berkecukupan yang hendak menapak tilasi jalan Nabi dalam menggapai ridho Ilahi.

Sayang, prosesi pengurbanan itu kerap kali kurang berperikehewanan, sehingga mengurangi kesempurnaan ibadah. Padahal, sebagaimana dikutip dari Saddad bin Aus ra, Nabi sudah mengingatkan, "Sesungguhnya Allah mewajibkan kamu berbuat baik dalam segala hal. Bila kalian harus membunuh atau menyembelih, lakukanlah dengan baik." Pada kesempatan lain beliau mengatakan, "Tajamkan pisau dan senangkan binatang sembelihannya."

Di belakang hari, para ilmuwan Barat mengungkap hikmah pesan Nabi tersebut. Ternyata, adab menyembelih itu tidak hanya agar binatang tak tersiksa, tapi juga untuk kepentingan manusia. Ressang, pakar kedokteran hewan asal Perancis, pada 1962 menemukan bahwa daging hewan yang disembelih dalam keadaan nyaman berkualitas lebih baik. Yaitu lebih tahan lama disimpan dan rasanya enak.

Sebaliknya, pemukulan atau penjatuhan hewan seperti dialami Kliwon, menyebabkan memar dan perdarahan di bawah kulit dan daging. Ini mengakibatkan darah tidak keluar dengan sempurna sehingga menurunkan kualitas daging. Selain itu, jelas tidak praktis. Di negara Barat, sebelum disembelih hewan besar biasanya dipingsankan (stunning) menggunakan bius. Pembiusan dilakukan dengan membekapkan gas karbon (CO2), menyetrum otak, atau menembak binatang dengan captive bolt pistol. Dalam keadaan pingsan, barulah hewan disembelih.

Kiat itu memang mengatasi kelemahan penyembelihan tradisional. Tapi, resikonya, bila dosis obat bius tidak tepat, binatang bisa jadi mengamuk atau mati. Keduanya sama-sama merepotkan. Pembiusan juga meningkatkan tekanan darah arterial, kapiler, dan sistem vena (Thornton & Gracey, 1974). Ini menyebabkan pecahnya kapiler bila penyembelihan terlambat dilakukan, sehingga mengakibatkan perdarahan (blood splashing) pada karkas. Mutu daging turun karenanya. Penelitian seperti yang dilakukan Blomquist (1959), Hiner (1971), Van der Wall (1975), Overstreet (1975), Mc Loughilin & Davidson (1966), dan lain-lain, juga membuktikan bahwa semua bentuk pemingsanan di atas berdampak menurunkan kualitas daging.

Bahkan menurut hasil-hasil penelitian yang dilaporkan Center for Science in The Public Interest (CSPI), Amerika Serikat, metode pneumatic stunning dapat menyebabkan pecahnya jaringan otak sapi yang kemudian terbawa ke sistem jaringan tubuh. Bila sapi tersebut mengidap bovine spongioform enchephalopathy alias sapi gila (mad cow), maka penyakit ini akan menular pada manusia yang memakan dagingnya yang telah tercemar itu. Hal tersebut ditegaskan Leila Corcoran (BICNews, 25 Juli 1997) dalam artikelnya yangberjudul "Cattle stun gun may heighten madcow". Ia juga menyimpulkan, penyembelihan tanpa pemingsanan merupakan metode terbaik.

Hasil percobaan Profesor Schultz dan koleganya Dr. Hazim dari Universitas Hanover,Jerman, menemukan bahwa penyembelihan tanpa stunning ternyata menyebabkan hewan tidak merasakan sakit. Darah ternak pun dapat keluar dengan sempurna.Dalam percobaannya, mereka memasang microchip electro-enchephalograph (EEG) pada permukaan syaraf otak perasa sakit sekelompok sapi dewasa. Sedangkan untuk merekam aktivitas jantung saat memompa darah keluar,pada jantung sapi-sapi itu dipasan electrocardiograph (ECG). Sapi-sapi tersebut lalu dibagi menjadi dua kelompok, dan disembelih dengan perlakuan berbeda. Kelompok pertama disembelih menurut tata cara Islam, sedangkan satunya dengan stunning.

Hasilnya, pada perlakuan stunning, segera setelah dipingsankan sapi terhuyung jatuh dan collaps. Sapi pun terdiam, kelihatannya tidak merasa sakit sehingga ketika disembelih tidak meronta sedikitpun. Darah yang keluar juga tidak banyak. Setelah pemingsanan, tercatat kenaikan signifikan pada grafik EEG. Ini menunjukkan adanya rasa sakit pada ternak setelah dipingsankan. Sebaliknya, pada saat yang berbarengan,grafik ECG merosot tajam hingga ke titik nadir.Hal ini menunjukkan bahwa rasa sakit itu luar biasa sehingga menyebabkan jantung berhenti berdetak lebih awal. Tidak mampu memompa darah lebih banyak. Akibatnya, darah ternak tidak keluar dengan sempurna (tuntas). Ini tentu saja menurunkan kualitas daging.

Pada sampel sapi yang disembelih secara syarita Islam, tiga detik setelah tiga saluran di leher sapi terputus (disembelih), tidak tercatat perubahan pada EEG. Hal ini mengindikasikan tidak adanya rasa sakit yang diderita sapi. Tiga detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafiksecara gradual yang sangat mirip dengan pola deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi tersebut benar-benar kehilangan kesadaran. Pada saat yang sama terjadi kenaikan pada grafik ECG.

Setelah 6 detik pertama itu, grafik ECG meningkat drastis, yang menunjukkan aktivitas jantung menarik darah semaksimal mungkin dari seluruh tubuh dan memompanya keluar. Hal ini menjadikan daging sapi tetap berkualitas untuk dikonsumsi. Pada saat darah keluar dari tiga saluran di leher, grafik EEG tidak naik namun justru drop ke titik terendah. Hal ini menunjukkan bahwa sapisapi yang disembelih dan kelojotan itu ternyata tidak merasakan sakit sama sekali. Gerakan kejat-kejat sapi yang cukup lama itu hanyalah menunjukkan keterkejutan otot dan saraf lantaran darah mengalir deras. Hasil penelitian Blackmore (1984), Daly et al (1988), Blackman et al (1985), dan Anil et al (1995) di 4 negara berbeda menunjukkan bahwa setelah disembelih sapi memang memerlukan waktu lebih lama untuk sampai pada kematiannya.

Alternatif yang paling aman adalah mesin pengepres binatang. Alat ini semacam guillotine mekanik, yang menjepit tubuh hewan sembelihan secara pas. Sebuah alat kemudian memaksa kepala binatang terangkat sehingga lehernya terbuka. Mesin lalu berputar, sehingga hewan dalam posisi rebah. Nah, ketika binatang sedang "menikmati" sensasi "roller skater" itulah, sang jagal menyembelihnya. Cara tersebut memang membutuhkan investasi mesin yang cukup mahal. Tapi di Irlandia, mekanisasi itu sudah lama diterapkan. Khususnya di rumah potong sapi yang dagingnya diekspor ke negeri-negeri Muslim. Di sini, para jagalnya tentu saja beragama Islam.Di tanah air, kalau mau, para pengusaha sapi potong bisa saja mengadakan alat mekanik semacam itu. Dan ketika Idul Adha, mereka pun bisa meminjamkan atau menyewakan alat tersebut untuk panitia kurban di sekitarnya.

(nurbowo)

KONSULTASI HALAL | PENYEMBELIHAN YANG BERPERIKEHEWANAN
(1321) views
KENAL
SYAIKH NAWAWI AL BANTANI KEBANGGAN INDONESIA
 Share       

Nama Syeikh Nawawi tidak asing lagi bagi dunia Islam terutama dalam lingkungan pesantren. Banyak karyakarya beliau yang dijadikan rujukan, bahkan bahan utama dalam pengajaran di pesantren.

Syaikh Nawawi al-Bantani orang Banten, Indonesia. Beliau termasuk ulama besar di jamannya.Terlahir dengan nama Abu Abdullah al-Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar al-Tanarial-Bantani-al-Jawi, pada penghujung abad ke-18, tepatnya pada tahun 1230 Hijrah/1814 Masehi, di Banten, Jawa Barat.

Sejak kecil ia telah diarahkan oleh orangtuanya, KH Umar bin Arabi untuk menjadi seorang ulama. Sejak kecil Nawawi benar-benar berada langsung di bawah pengawasan sang ayah. Baru ketika menjelang dewasa sang ayah menyerahkan Nawawi kepada KH Sahal, seorang ulama terkenal di Banten, untuk dididik.Pada usia 15 tahun Nawawi berangkat menuju Mekkah. Niat awalnya ialah untuk menunaikan ibadah haji. Tetapi, setelah musim haji usai ia berubah pikiran. Disana ia melihat sesuatu yang ia idam-idamkan.

Begitu banyak majelis ilmu dengan ulamaulama yang terkenal. Maka ia memutuskan untuk bertahan dulu di Mekkah untuk menimba ilmu, baru setelah itu kembali ke tanah air.Dan perjalanan menuntut ilmupun dimulai. Ia belajar dengan ulama-ulama besar kelahiran Indonesia dan yang lainnya, semisal Syekh Ahmad Khatib Sambas. Beliau salah satu ulama Indonesia menjadi imam di Masjidil Haram. Kurang lebih tiga tahun Nawawi menuntut ilmu di Mekkah. Berbagai dispilin ilmu mengenai keislaman ia pelajari. Setelah merasa bekal ilmunya cukup ia memutuskan untuk kembali ke tanah air. Hasratnya sudah tidak sabar untuk menularkan apa yang didapatnya di Mekkah pada kampong halamannya.

Sesampainya di Tanah Air ia langsung mengajar di pondok pesantren yang didirikan oleh sang ayah. Tetapi, ketika itu ia merasa kondisi di tanah air kurang mendukung dalam proses pengembangan ilmunya.Sebagaimana kita ketahui, saat itu Belanda sedang kencang-kencangnya mencengkeram Indonesia. Maka beliau pun memutuskan untuk kembali merantau ke tanah suci.Di sana ia kembali berguru kepada ulama terkenal baik yang dari tanah air maupun yang dari luar. Karena kecerdasan dan ketekunannya dalam menuntut ilmu menjadikan ia murid yang terpandang di Masjidil haram. Makanya tidak salah ketika syeikh Ahmad Khatib Sambas telah uzur dalam tugasnya sebagai imam Masjidil Haram, Nawawi ditunjuk sebagai penggantinya. Sejak saat itu, ia resmi menjadi imam Masjidil Haram dengan panggilan Syeikh Nawawi al-Jawi.

Selain menjadi imam Masjidil Haram, beliau juga membuka halaqoh-halaqoh pengajian. Ia juga sempat belajar di Mesir.Lalu pernah berdialog langsung dengan Syeikh Muhammad Abduh, bahkan juga pernah berceramah di Al Azhar, Kairo. Karena kecerdasannya, dalam waktu tidak lama ia telah memiliki begitu banyak murid. Sejumlah nama seperti KH Kholil Madura, KH Asnawi Kudus, KH Tubagus Bakri, KH Arsyad Thawil dan KH Hasyim Asyari dari Jombang. Di kemudian hari nama-nama ini menjadi ulama-ulama yang terkenal di tanah air. Sebagaimana ulama pada umumnya,Syeikh Nawawi juga memilki pemikiran dan pandangan yang khas. Beliau juga dikenal sangat konsisten dan mempunyai komitmen yang tinggi bagi perjuangan umat Islam. Meski demikian, dalam menghadapi belanda,ia mempunyai cara tersendiri. Ia tidak agresif dan reaksioner dalam menghadapinya.

Tetapi bukan berarti beliau tidak melawan.Dalam setiap kesempatan beliau selalu berpendapat untuk tidak melakukan kerjasama dalam bidang apapun dengan pihak kolonial. Syeikh Nawawi memang lebih suka memberikan perhatian dan berkhidmat kepada dunia ilmu dan pendidikan.Sebagai seorang ulama, Syeikh Nawawi juga seorang pemikir. Bahkan kontribusinya cukup besar bagi perkembangan Islam di Indonesia. Beberapa karyanya hingga kini masih menjadi rujukan yang sangat penting dalam dunia pesantren. Maka, dalam kacamata Prof DR Azyumardi Azra, beliau merupakan bagian dari peta intelektualisme Indonesia. Banyak karya yang sudah dibuatnya. Mau tau? Berikut yang pernah tercatat sejarah:

1. Targhibul Musytaqin, selesai Jumaat, 13 Jamadilakhir 1284 Hijrah/1867 Masehi. Cetakan awal Mathba'ah al-Miriyah al- Kainah, Mekah, 1311 Hijrah.

2. Fat-hus Shamadil `Alim, selesai awal Jamadilawal 1286 Hijrah/1869 Masehi. Dicetak oleh Mathba'ah Daril Kutubil Arabiyah al-Kubra, Mesir 1328 Hijrah.

3. S yarah Miraqil `Ubudiyah, selesai 13 Zulkaedah 1289 Hijrah/1872 Masehi. Cetakan pertama Mathba'ah al-Azhariyah al-Mashriyah, Mesir 1308 Hijrah.

4. Madarijus Su'ud ila Iktisa'il Burud, mulai menulis 18 Rabiulawal 1293 Hijrah/1876 Masehi. Dicetak oleh Mathba'ah Mustafa al-Baby al-Halaby, Mesir, akhir Zulkaedah 1327 Hijrah.

5. Hidayatul Azkiya' ila Thariqil Auliya',mulai menulis 22 Rabiulakhir 1293 Hijrah/1876 Masehi, selesai 13 Jamadilakhir 1293 Hijrah/1876 Masehi. Diterbitkan oleh Mathba'ah Ahmad bin Sa'ad bin Nabhan, Surabaya, tanpa menyebut tahun penerbitan.

6. Fat-hul Majid fi Syarhi Durril Farid, selesai 7 Ramadan 1294 Hijrah/1877 Masehi.Cetakan pertama oleh Mathba'ah al- Miriyah al-Kainah, Mekah, 1304 Hijrah.

7. Bughyatul `Awam fi Syarhi Maulidi Saiyidil Anam, selesai 17 Safar 1294 Hijrah/1877 Masehi. Dicetak oleh Mathba'ah al-Jadidah al-'Amirah, Mesir, 1297 Hijrah.

8. S yarah Tijanud Darari, selesai 7 Rabiulawal 1297 Hijrah/1879 Masehi. Cetakan pertama oleh Mathba'ah `Abdul Hamid Ahmad Hanafi, Mesir, 1369 Masehi.

9. S yarah Mishbahu Zhulmi `alan Nahjil Atammi, selesai Jamadilawal 1305 Hijrah/1887 Masehi. Cetakan pertama oleh Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1314 Hijrah atas biaya saudara kandung pengarang, iaitu Syeikh Abdullah al-Bantani.

10. Nasha-ihul `Ibad, selesai 21 Safar 1311 Hijrah/1893 Masehi. Cetakan kedua oleh Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah,1323 Hijrah.

11. Al-Futuhatul Madaniyah fisy Syu'bil Imaniyah, tanpa tarikh. Dicetak di bahagian tepi kitab nombor 10, oleh Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1323 Hijrah.

12. Hilyatus Shibyan Syarhu Fat-hir Rahman fi Tajwidil Quran, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah al-Miriyah, Mekah, 1332 Hijrah.

13. Qatrul Ghaits fi Syarhi Masaili Abil Laits, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah al-Miriyah, Mekah, 1321 Hijrah.

14. Mirqatu Su'udi Tashdiq Syarhu Sulamit Taufiq, tanpa tarikh. Cetakan pertama oleh Mathba'ah al-Miriyah, Mekah 1304 Hijrah.

15. Ats-Tsimarul Yani'ah fir Riyadhil Badi'ah, tanpa tarikh. Cetakan pertama oleh Mathba'ah al-Bahiyah, Mesir, Syaaban 1299 Hijrah. Dicetak juga oleh Mathba'ah Mustafa al-Baby al-Halaby, Mesir, 1342 Hijrah.

16. Tanqihul Qaulil Hatsits fi Syarhi Lubabil Hadits, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah Dar Ihya' al-Kutub al-'Arabiyah, Mesir, tanpa tarikh.

17. Bahjatul Wasail bi Syarhi Masail, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah al-Haramain, Singapura-Jeddah, tanpa tarikh.

18. Fat-hul Mujib Syarhu Manasik al- 'Allamah al-Khatib, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah at-Taraqqil Majidiyah, Mekah, 1328 Hijrah.

19. Nihayatuz Zain Irsyadil Mubtadi-in, tanpa tarikh. Diterbitkan oleh Syarikat al-Ma'arif, Bandung, Indonesia, tanpa tarikh.

20. Al-Fushushul Yaqutiyah `alar Raudhatil Bahiyah fi Abwabit Tashrifiyah, tanpa tarikh. Dicetak oleh Mathba'ah al- Bahiyah, Mesir, awal Syaaban 1299 Hijrah. Syeikh Nawawi al-Bantani wafat dalam usia 84 tahun di Syeib A’li, sebuah kawasan di pinggiran kota Mekkah pada 25 syawal 1314H/ 1879 M. Hingga saat ini, haul (peringatan kematian) diperingati setiap tahunnya dan dihadiri oleh puluhan ribu orang.

KENAL | SYAIKH NAWAWI AL BANTANI KEBANGGAN INDONESIA
DUNIA ISLAM
Daar ul Qur’an Gaza LAHIRKAN HAFIDZ HAFIDZ CILIK
 Share       

Amboi, indahnya momen sweet seventeen Muhammad Asraf Ridwan. Persis menginjak usia 17 tahun, santri Halaqoh Syahid Iskandar Muda inipun khatam hafalan Qur’an 30 juz. Sehingga, Ridwan pantas menyandang sebutan Al Hafidz.

Oh bukan, ini bukan tentang remaja Indonesia. Ridwan Al Hafidz adalah remaja Palestina, santri Daarul Qur’an Gaza yang dibimbing Syaikh Isa Amjad Hirtani Al Hafidz. Ridwan hanya salah satu dari hampir 200 santri Daarul Qur’an Gaza. Anak-anak belia hingga remaja ini berkelompok dalam halaqoh halaqoh yang diberi nama sejumlah pahlawan Indonesia. Selain Halaqoh Syahid Iskandar Muda, juga Halaqoh Hasyim Al-Asyari, Tuanku Imam Bonjol, Cut Nyak Dien, Ahmad Dahlan, dan Pattimura. Halaqoh Syahid Tuanku Imam Bonjol dibina oleh Syaikh Omar Yaquib Al Hafidz. Sedang Isa As’ad Muhammad Muhra Al-Hafidz mengasuh Halaqoh Syahid Ahmad Dahlan, dan Ghozy MUlwan Al Hafidz membimbing Halaqoh Syahid Pattimura. Adapun para santri putri dikelompokkan dalam Halaqoh Syahid Hasyim Al-Asyari dan Syahidah Cut Nyak Dien yang masing-masing dibimbing oleh Huda Ibrahim Ied Al Hafidzah dan Maryam Alburs Al Hafidzah.

Berdasarkan laporan terakhir yang dikirim Ketua Daarul Qur’an Gaza Onim Abdillah belum lama ini, para santri Daarul Qur’an Gaza sudah hafal minimal 3 juz, dan sebagian sudah khatam 30 juz. Markas Daarul Qur’an Gaza yang berloaksi di Jalan Indonesia, Jabalia City, Gaza, bermula dari halaqoh di Markaz Tahfidz Qur’an Masjid Umari. Cikal bakal Graha Tahfidz Daarul Qur’an Gaza ini beroperasi sejak 20 Juni 2013.Di bawah asuhan Syaikh Ghozy Muhammad Ulwan (44),Muhammad Yaqub Solaiman (26), dan Isa As’ad Muhammad Mahruh, sebanyak 30 santri Markaz Tahfidz setiap hari, kecuali Jumat, menghafal Qur’an. Lantaran jumlah santri semakin banyak, sejak akhir September 2013 PPPA Daarul Qur’an merintis pembangunan Graha Tahfidz Qur’an Indonesia Gaza. Lokasinya di dekat Masjid Umari. Lahan pembangunan merupakan wakaf dari Onim Abdillah, yang mendapat tanah tersebut sebagai hadiah dari ayah mertuanya yang asli Gaza.

Alhamdulillah, pada 6 Juli 2014, Graha Tahfidz Qur’an Indonesia Gaza mulai digunakan. Namun baru sehari dipakai,gedung sumbangan donatur Indonesia ini nyaris rusak total karena dihujani roket Israel. Pada tengah malam, 7 Juli 2014, Israel memulai agresi udara ke Gaza dengan sandi Operation Protective Edge. Dan esok sorenya waktu setempat, Graha Tahfidz Daarul Qur’an Indonesia hancur disasar.

Namun, seperti ditandaskan Michael Heart dalam lagu heroiknya, We will not go down! You can burn up our mosques and our homes and our schools/But our spirit will never die/We will not go down/In Gaza tonight....

Dengan dukungan Bangsa Indonesia melalui PPPA Daarul Qur’an, salah satu "pabrik" hafidz Qur’an di Bumi Gaza itu dibangun kembali. Kini, anak-anak generasi Qur’ani Gaza terus bertumbuhan.Jumlah penghafal Qur’an pun kian banyak. Pada tahun 2011,di Gaza terdapat 13 ribu Penghafal Qur’an. Tahun berikutnya meningkat menjadi lebih 23 ribu penghafal, 5000 di antaranya hafal 30 juz. Tahun 2013 jumlahnya semakin bertambah, dan 6000 diantaranya hafal 30 juz. Tahun 2014 lebih banyak lagi,walau sebagian syahid diroket Israel. Begitupun bertambah lagi tahun 2015 dan seterusnya. Insya Allah.


 

DUNIA ISLAM | Daar ul Qur’an Gaza LAHIRKAN HAFIDZ HAFIDZ CILIK
KOLOM GURU
BUDAYA ANTRI DI PESANTREN Ustadz Hendy Irawan Saleh
 Share       

Kunjungan Pondok, salah satu program yang terbilang cukup baru di Pesantren Tahfidz Daarul Quran.Walaupun dalam praktiknya, sudah sejak dulu Sabtu-Ahad menjadi visiting-day para orangtua dan wali santri untuk menjenguk putra-putrinya.Melalui program Kunjungan Pondok,orangtua dan wali santri, baik santri eksis maupun indent, serta masyarakat umum,mengikuti taklim sambil mengenali lebih dekat kondisi fisik dan situasi pesantren. Nah, yang pernah mengikuti Kunjungan Pondok, pasti sudah mengenali salah satu budaya pesantren: antri.

Ya, sejak dini, para santri memang kita paksa untuk antri. Setidaknya ada enam momen ketika mereka harus tidak boleh kalah sama bebek –salah satu makhluk Allah yang berbudaya antri dengan baik. Yaitu antri di dapur untuk makan, antri di kantin untuk jajan, antri di kamar mandi, antri di kran wudhu, antri masuk kelas, dan antri pengurusan administrasi.

Memang, secara tersurat, antri tidak disebut dalam kitab-kitab fiqih. Tetapi, budaya ini sudah inheren dalam adabadab yang diajarkan agama kita. Misalnya dalam tertib (urutan) wudhu, sholat, dan sebagainya. Dalam kitab Sulamut Taufiq, menyerobot antrian dianggap sebagai sebuah perilaku maksiat. Menyerobot antrian tanpa haq sama halnya dengan merusak ketertiban.

Mulanya, santri memang dipaksa antri.Tapi, lama-lama mereka jadi terbiasa, bahkan menikmati, dan akhirnya antri jadi kebutuhan.Pada titik ini, antri sudah menjadi budaya.Banyak hikmah dari budaya mengantri.Antri mengajarkan tentang manajemen strategi waktu. Yang ingin berada di antrian paling depan mau tak mau harus dating lebih awal. Ini berarti dia harus menata jadwal kegiatannya.Antri juga mengajarkan bersabar ketika menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang maka mau tidak mau kita dituntut untuk bersabar.

Antri berarti menghormati hak orang lain.Saat kita datang lebih awal maka kita pasti mendapat giliran lebih awal dan dan tidak akan saling mendahului merasa diri penting.Dengan antri, santri belajar kreatif dalam mengisi waktu ketika menunggu giliran.Misalnya membaca buku saat mengantri atau memecahkan persoalan dalam pikiran dan perasaan. Melalui antrian, santri saling kenal lebih akrab, lebih ngobrol satu sama lain. Antri juga mengajak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya. Dan akhirnya, dengan antri santri belajar hukum sebab-akibat atau konsekuensi logis. Kalau lelet, belakangan; Jika rajin, depanan.Rajin dan baik, jika duluan untuk ambil makan tapi mendahulukan ustadz di belakangnya.He, he, he....

 

KOLOM GURU | BUDAYA ANTRI DI PESANTREN Ustadz Hendy Irawan Saleh
BILIK PESANTREN
DEKET DEKET SAMA QURAN
 Share       

Rajinin baca Quran. Apalagi menghafalnya. Sungguh,Quran akan menjadi pemberi syafaat untuk siapa saja yang membacanya di yaumil qiyamah nanti. Jadilah hamilul Qur’an (penghafal Quran). Yakin, orang tua kita pasti akan bangga. Suatu saat kita yang bakal nyelametin mereka untuk masuk ke dalam surga.

Orang tua mana yang nggak bangga? Pasti.Pasti bangga. Disaat yang laen kesusahan.Kelak kita datang sembari membawa syafaat dari Al Quran. Mumpung masi idup.Belajar yang bener. Belajar baca Quran, apalagi menghafalnya. Barakallah …

Khatamin Quran dirajinin. Sehari baca 3 juz, kali sepuluh hari. Ya 30 juz. Simpel. Asal telaten, insya Allah. Datengin guru ngaji. Belajar tajwid supaya bacaannya bener. Kalo salah ada yang benerin.Sembari belajar nada ngaji. Supaya enak didenger. Berawal dari kita. Supaya cetakan anak keturunan kita jadi orang bener. Turut mencintai Al Quran seperti ayah dan ibunya lakukan. Buat yang belom punya jodoh, buruan hafalin Quran supaya dapet orang yang juga hafal Quran. Diiringi dengan doa dari orang tua dan kita sendiri.

Bismillah ajalah. Haqqul yakiin.Nothing impossible as long as you believe… Al Faatihah…Ya Allah, sayangi kami dengan Quraan. Jadikan Quran panutan, cahaya, petunjuk, dan rahmat.Ya Allah, tegurlah kami. Bila melupakannya. Dan ajarkan, kebodohan kami. Jadikan rizki pada kami dengan membacanya di malam dan siang hari.Ya Allah, berkahilah setiap jam, menit, detik, waktu yang kulewati. Jadikanlah aku sebagai orang yang bersyukur kepadamu. Ya Allah, jauhkanlah aku dari sifat buruk. Bersihkanlah hatiku. Pancarkanlah sinar Al Quran untukku. Ya Allah, permudahkanlah lisan ini untuk membacanya di pagi, siang, sore, dan malam hari.

Bahkan setiap saat. Ya Allah, jika memang ada saatnya nanti aku menutup usia. Tolong, matikanlah aku dalam keadaan khusnul khatimah. Ya Allah, ajarkanlah segala kebodohanku. Berikanlah ilmu agama yang cukup untuk aku amalkan kembali. Ya Allah, lindungilah ummat muslim diseluruh dunia. Jaga mereka. Berikanlah mereka rasa cinta kepada kitab-Nya. Ya Allah. Sampaikanlah salam untuk Nabi Muhammad SAW, dariku. Datangkanlah beliau kembali kedalam mimpiku. Al Faaatihaah …

 

BILIK PESANTREN | DEKET DEKET SAMA QURAN
AKTIFITAS
DAARUL QUR'AN Muliakan Kyai dan Alumni Gontor
 Share       

"Walaupun Ustadz Yusuf Mansur tidak sempat masuk Gontor, tapi para Kyai Gontor dimasukkan ke hotelnya dan alhamdulillah gratis," ujar Zulkifli Muhadli. Ucapan Ketua Umum Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG) itu spontan disambut tepuk tangan meriah dari 200-an orang yang memenuhi Aula Hotel Siti, Tangerang.

Keramahan tersebut muncul dalam pembukaan Silaturrahim Nasional Kiai dan Pimpinan Pesantren Alumni Gontor,Jumat (22/1) petang. Pembukaan dihadiri Gubernur Banten H Rano Karno, KH Kafrawi Ridwan MA selaku Ketua Umum Badan Wakaf Gontor, pendiri Gontor KH Dr Abdullah Syukri Zarkasyi, Mantan Ketua MPR Hidayat Nurwahid, Ustadz Bachtiar Nasir, Dr Muhammad Lutfi, KH Hasyim Muzadi anggota Wantimpres, Prof DR Amal Fathullah Zarkasyi Rektor Universitas Daarussalam, KH Abdullah Sahal,Dr Fahmi Zarkasyi, Ketua Umum PP Muhamamdiyah Prof Din Syamsuddin, dan lain-lain.

Hadir juga selaku sohibul bayt para pimpinan Daarul Qur’an Ustadz Yusuf Mansur, Ahmad Jameel, Anwar Sani, dan Tarmizi.Yusuf Mansur dalam sambutannya menjelaskan, Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Tangerang yang didirikannya, juga dipimpin oleh alumnus Gontor yaitu Ahmad Jameel. Jadi, kami juga bagian dari keluarga besar Alumni Gontor, imbuhnya.Hotel Siti, lanjut Yusuf Mansur, bukan hotel saya, tapi hoteluna, hotelukum, hotel kita semua.Tak hanya menggratiskan Hotel Siti untuk silatnas yang berlangsung 22-24 Januari 2016,Yusuf Mansur juga meminta Gubernur Bantenmemberi uang transport bagi para peserta.

"Pak Gubernur, semua kyai saya gratiskan masuk Hotel Siti. Tidak ada salahnya jika Gubernur memberi sangu para kyai Rp 5 juta perorang," tutur Yusuf Mansur dengan polosnya. Gubernur Rano Karno spontan membalas dari tempat duduknya. "Insya Allah, akan saya transfer ke Daarul Qur’an," serunya sambil mengucap takbir.Rano dalam sambutannya mengungkapkan,malam itu sebenarnya ia ada jadwal menghadiri pengajian di rumah anaknya yang hendak menikah. "Mohon doanya para kyai, saya memilih mendahulukan hadir di forum ini, karena ini forum sangat terhormat," katanya.

Gubernur Rano mengakui, ia bukan anak pesantren. "Tapi, saya bahagia sekali kalau diterima sebagai bagian dari keluarga besar para kyai."Zulkifli Muhadli menjelaskan, silaturahim di Hotel Siti ini merupakan pertemuan terbesar yang dihadiri para kiai dan pimpinan pesantren alumni Gontor. Acara ini merupakan bagian dari kegiatan besar peringatan 90 tahun Pondok Modern Gontor.

“Waktu Gontor berdiri tahun 1926,tantangannya berat, karena situasi ekonomi masyarakat lemah, negara belum ada. Tapi Gontor jalan terus, kekuatan utamanya keikhlasan para pendirinya, semangat ini yang akan kita gali dalam pertemuan ini,” kata Zulkifli. Gontor saat ini memiliki 20 pesantren yang tersebar di Indonesia; 13 kampus pondok putra dan 7 kampus pondok putri. Pondok Modern Darussalam Gontor yang saat ini berdiri di Jawa, Sumatera dan Sulawesi dengan jumlah guru dan santri sekitar 25.405 orang, serta mengelola Universitas Darussalam Gontor (UNIDA), dengan jumlah mahasiswa sekitar 2.684 orang.

Selain itu, hingga saat ini 283 pesantren telah terdaftar sebagai Pesantren Alumni Gontor, yaitu pesantren yang dikelola para alumni Gontor, dan beberapa pesantren masih dalam tahap pendataan atau belum mendaftar. Menurut Ketua Panitia Pelaksana Silatnas Sofwan Manaf, selain mempererat silaturrahmi,silatnas ini juga dalam rangka meningkatkan tata asuh dan tata kelola masing-masing pondok pesantren. Apa yang baik dari sebuah pesantren,bisa lebih baik diterapkan di pesantren lain.

Di acara ini juga akan dibahas peningkatan peran pesantren dalam masalah kemiskinan, pengangguran, tantangan pasar bebas ASEAN,masalah infrastruktur, dan penguatan bangunan Indonesia diatas kemajemukan bangsa. Silatnas Kiai dan Pimpinan Pesantren Alumni Gontor menghadirkan pembicara seperti Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Menteri Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat Basoeki Hadimoeljono
(mahfudz, bowo)

AKTIFITAS | DAARUL QUR'AN Muliakan Kyai dan Alumni Gontor
AKTIFITAS
KH Hasan Abdullah Sahal Selalu Melihat ke Depan tapi Hindari Brain Destroying
 Share       

KH Hasan Abdullah Sahal dilahirkan di Desa Gontor, Ponorogo, pada 24 Mei 1947. Putra keenam dari KH Ahmad Sahal, salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, ini alumnus Universitas Islam Madinah dan Al-Azhar Cairo. Beliau sekarang salah satu pimpinan Pondok Gontor. Berikut penuturan Kyai Abdullah Sahal dalam Silaturahim Nasional Kyai dan Pimpinan Pesantren Alumni Gontor di Hotel Siti Tangerang, 22 Januari 2016.

Saya tidak punya Twitter, FB, instagram,tapi hari-hari ini gambar saya bertebaran di mana-mana. Gambar saya sedang menendang bola disandingkan dengan Ronaldo. Masalahnya adalah, saya tidak suka Ronaldo, soalnya saya suka Barcelona (sedangkan Christiano Ronaldo bintang kesebelasan Real Madrid, seteru Barcelona –Red).

Tapi lihat dan bandingkan, bagaimana gambar saya dengan Ronaldo. Saat menendang bola, Ronaldo masih melihat bola, sedangkan saya melihat ke depan. Begitulah kita, Gontor, dalam melihat sesuatu tidak pernah melihat ke bawah apalagi melihat ke belakang. Kita selalu melihat ke depan. Dan kita selalu diajarkan percaya diri. Saya dengan yakin bisa bilang kalau tendangan saya tidak kalah dengan Ronaldo.

Begitulah, Gontor selalu mengajarkan percaya diri dan melihat ke depan. Maka sejak berdirinya, Pondok Gontor mengambil 4 sintesa perguruan terkemuka di dunia yaitu: Sanggit, Aligarh, Santiniketan, Al-Azhar. Padahal, Gontor hanya ada di desa kecil.Sejak berdiri Gontor sudah mengajarkan Bahasa Arab dan Inggris, meskipun KH Ahmad Sahal saat itu malah bisanya Bahasa Londo. Artinya apa, kita selalu melihat ke depan.Maka, saat ini KH Ahmad Sahal akan berkata:

"Kami sudah melakukan apa yang sudah Kami lakukan hingga hari ini, dan dari alam kubur Kami akan melihat apa yang akan anak-anakku lakukan untuk Gontor ke depan."

Pesantren ini terdiri dari tiga hal; keislaman,keilmuan, kemasyarakatan. Maka anak-anak Gontor harus bisa menguasai ketiga hal ini. Dan dari dulu kita katakan, secara keilmuan, Gontor itu 100% ilmu agama, dan 100% ilmu umum. Kita mempelajari ilmu agama 100%, ilmu umum juga 100%.

Hati-hati dengan zaman modern, karena sekarang ini bukan lagi zaman modern, tetapi zaman kebinatangan modern. Sekarang bukan lagi zamannya brainwashing (pencucian otak),tetapi sudah mengarah kepada "brain destroying" (penghancuran otak/pola pikir). Karena itu, Gontor mengajarkan nilai-nilai yang tidak boleh berubah. Nilai disiplin, keikhlasan,akhlaqul karimah untuk membentengi diri dari zaman kebinatangan modern ini. Maka materi, sistem di Gontor boleh berubah, tetapi nilai tidak boleh berubah.

Kyai itu di atasnya Allah, di bawahnya tanah.Kita itu kuat, besar. Yang membuat kita lemah, takut, ya kita sendiri. Pesantren itu bukan sarang teroris. Pesantren harus menanggung secara keseluruhan karena beberapa orang dianggap teroris. Sebenarnya teroris yang lebih berbahaya itu siapa? Kalau negara meneror rakyat, apa itu bukan teroris? Apa itu bukan kejahatan kemanusiaan? Bangsa Indonesia harus mandiri. Silakan pilih: Kaya tapi dianggap miskin sehingga merasa terus harus dibantu, disuapi, dikasih seperti pengemis; Atau, miskin tapi dianggap kaya sehingga merasa cukup bahkan membantu. Kalau memilih yang pertama, berarti mentalmu masih mental miskin, mental pengemis, mental peminta-minta. Jadi, lebih baik miskin tapi kaya jiwa.

Gusti Allah tidak tidur, akan melihat apa yang kita lakukan. Karena itu, kalau sedang di atas kita tidak boleh sombong, dan pada saat di bawah kita tidak boleh putus asa. Allah SWT pasti akan memberikan pertolongan. Kata orangtua, anakmu yang nakal, yang sakit,yang bandel, jangan dimarahi, tapi sayangilah. Indonesia ini anak kita, sedang sakit atau sedang sehat? Nah, tetap sayangilah Indonesia dan binalah menjadi benar. Karena dari Gontor kita akan mendidik para pemimpin dunia agar tidak sakit. Karena negara yang sakit akibat pemimpinnya yang sakit.
 (mahfudz/bowo)

AKTIFITAS | KH Hasan Abdullah Sahal Selalu Melihat ke Depan tapi Hindari Brain Destroying
AKTIVITAS
Pesantren Tahfidz Daar ul Qur'an Mulai Gunakan Biogas
 Share       

Klik, bull... Begitu Ustadz Ahmad Jameel memutar knop kompor gas ke kiri, api biru menyala melingkar rata. "Alhamdulillah," kata Pemimpin Harian Pesantren Daarul Qur'an sambil tersenyum di rumahnya, Kamis (4/2).

Itulah momentum peresmian penggunaan biogas sebagai bahan bakar alternatif di lingkungan Pesantren Tahfidz Daarul Qur'an Tangerang, Banten. Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses pembusukan limbah organik (dari makhluk hidup) dengan bantuan bakteri dalam keadaan anaerob (tanpa oksigen).

Melalui Unit Pengelolaan Limbah Terpadu Pesantren, limbah organik berupa feces (tinja) santri diproses menjadi biogas. Gas ini sebagian besar berupa gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2), dan beberapa gas dalam jumlah kecil seperti hidrogen sulfida (H2S), ammonia (NH3), hidrogen (H2), dan nitrogen. Gas yang dihasilkan sementara ini hanya digunakan untuk kompor dapur. "Ke depan bisa kita manfaatkan juga untuk sumber energy listrik pesantren," terang Jonet, pemimpin unit pengolahan limbah.

Pembina Syariah Daarul Qur’an KH Ahmad Kosasih MA menjelaskan, biogas hasil pengolahan feces manusia halal hukumnya untuk dimanfaatkan. Sebagaimana kemubahan memanfaatkan tinja hewan dan manusia untuk diolah menjadi pupuk organik."Tinja manusia itu najis. Gas yang dihasilkan dari kotoran itu juga najis. Namun, ketika gas tersebut sudah dibakar, maka api dan asapnya dihukumi sebagai najis yang ma’fuwwun ‘anhu (dimaafkan/ditoleransi)," terang Kyai Kosasih.

Artinya, jika badan kita terkena biogas tersebut hingga basah karenanya, maka bagian yang basah itu harus disucikan lantaran mutanajjis.Tapi tak mengapa terkena api dan terpapar asap hasil pembakaran biogas, meskipun api dan asap itu mengandung materi najis.Kyai Kosasih menganalogikan dengan angin yang keluar dari perut manusia melalui dubur (kentut). Kalau angin itu lembab sehingga membasahi pakaian dalam (meninggalkan bekas atau residu), maka pakaiannya kena najis. Tidak sah jika dipakai ketika sholat.

Namun jika angin itu kering, dan mungkin hanya menerbitkan bau tak sedap, maka najisnya ringan (dimaafkan).Walau demikian, KH Ahmad Kosasih tetap menerima dan menghargai pendapat yang berbeda soal pemanfaatan biogas dari limbah tinja. Guna meyakinkan warga pesantren, maka pemanfaatan kompor biogas perdana dilakukan oleh para pengurus yayasan dan pimpinan pesantren. Selain Ustadz Jameel, juga Ketua Daarul Qur’an Tarmizi As Shidiq, dan Pengasuh Pesantren Ustadz Slamet Ibnu Syam.

Jonet menambahkan, pengolahan limbah tinja juga menghasilkan pupuk padat dan cair organik unggul. Produk ini akan dimanfaatkan untuk keperluan pesantren dulu. Jika terbukti sukses, akan dikemas untuk dijual ke publik. Biogas bukan produk kreatif pertama Daarul Qur’an. Sebelumnya, Pesantren Daarul Qur’an juga sudah mengolah sampah domestic pesantren untuk sumber energi. Melalui mesin incinerator, sampah yang sudah dibakar diproses menjadi batubara batako atau konblok.

AKTIVITAS | Pesantren Tahfidz Daar ul Qur'an Mulai Gunakan Biogas
AKTIFITAS
Santri Daqu Putri Periksa Gigi

 
 Share       

Saat-saat puncak musim hujan begini, wabah penyakit menyerbu masyarakat. Tak terkecuali para santri Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Putri Cikarang, Jawa Barat.

Pengasuh Pesantren Daqu Putri Cikarang Ustadz Sobri M Rizal, mengungkapkan,belakangan ini sakit gigi jadi semacam tren di kalangan santrinya. Karena itu, Daqu Outri menyelenggarakan penyuluhan dan pemeriksaan gigi santri.Acara tersebut digelar pada Sabtu, 20 Februari lalu, dengan mengundang Lembaga Pengabdian Masyarakat Badan Eksekutif mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Inodnesia (UI). Penyuluhan dan pemeriksaan dilakukan oleh tim medis yang berkekuatan 18 orang.

Mereka terdiri dari mahasiswa klinik dan mahasiswa co-as, disertai mahasiswa pra-klinik tingkat 2 (semester 4) sebagai asistennya. Sebanyak 86 santri menjalani pemeriksaan yang dimulai pagi hari. Hasil pemeriksaan, mayoritas pasien memiliki gigi berlubang, dan rata rata terjadi di gigi geraham belakang. Juga ada sedikit santri yang kondisi giginya agar parah sehingga dirujuk ke dokter gigi. Walau agar ngeri-ngeri sedap, para santri mengaku senang mengikuti acara ini. ‘’Saya jadi termotivasi juga untuk melanjutkan kuliah ke Fakultas Kedokteran Gigi,’’ ujar seorang santri yang bercita jadi dokter gigi yang hafal Al- Qur'an. Ustadz Sobri dalam sambutannya berpesan, para santri hendaknya merawat kesehatan,

 

AKTIFITAS | Santri Daqu Putri Periksa Gigi

 
AKTIFITAS
Pendekar Daqu Raih Emas dan Perunggu Nasional
 Share       

Tidak hanya menghafal Al-Qur’an, santri-santri Ponpes Tahfidz Daarul Qur’an Putri Cikarang juga piawai beradu silat. Yang terbaru, kontingen pendekar Daqu Cikarang membawa pulang 1 medali emas dan perunggu dari ajang kejuaraan pencak silat tingkat nasional di Gor Bima, Cirebon, Jawa Barat.

Kejuaraan yang berlangsung pada 7 hingga 10 Januari 2016, itu diikuti para pendekar mulai tingkat SD, SMP, SMA dan dewasa. Aqilla Munawaroh, santri kelas 9 Daqu Cikarang, berhasil menjadi juara pertama untuk tingkat SMP. Pendekar ini membawa pulang kalung medali emas ke Cikarang. Sedang seniornya, Rizkiyanti, meraih juara 3 untuk tingkat dewasa.

Prestasi ini merupakan hasil kerja keras para santri yang telah menyiapkan diri sebelum liburan semester. “Mereka berlatih terus menerus siang dan malam. Alhamdulillah hasilnya memuaskan,” ujar Muhamad Afriyanto selaku pembina pencak silat Pesantren Tahfidz Daqu Putri Cikarang. Ia berharap kepada para santri untuk tetap giat berlatih meski telah meraih prestasi agar bisa mempertahankan dalam kejuaraan berikutnya.

AKTIFITAS | Pendekar Daqu Raih Emas dan Perunggu Nasional
AKTIFITAS
Santri Bersihkan Mushola Sekitar
 
 Share       

Siapa bilang santri itu ekslusif. Buktinya,santri Daarul Qur’an Tangerang, peduli pada rumah ibadah di sekitar pesantren. Ahad, 14 Februari lalu, sebanyak 120 santri Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an, menggelar gotong royong membersihkan Mushola tetangga pesantren di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Cipondoh. Dibagi dalam empat regu, para santri membersihkan Musholla Al-Ja’far, Al-Ikhlas,Al-Hidayah, dan Musholla Al Furqon.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari materi sekolah partisipasi masyarakat. Kami berharap jiwa sosial dan kepedulian para santri terbangun dari kegiatan-kegiatan seperti ini,” tutur Ustadz Mardiyanto, Kepala Sekolah SMP Daarul Qur’an.

Tentu saja, kegiatan semacam ini disambut baik oleh warga sekitar. ‘’nah, bagus ini, santri mau gaul sama warga. Semoga hubungan kerjasama kita tetap terjaga serta silaturahmi ini terus terjalin,” kata Abdillah, warga Kampung Ketapang Dongkal. termasuk kesehatan gigi.

Misalnya dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang halal, sehat, berimbang dan mencukupi.Ia mengemukakan, ada sejumlah menu makanan yang dianjurkan untuk para penghafal Qur’an. ‘’Madu, air zamzam, kismis, jahe, ikan segar, dan kebiasaan gosok gigi dengan bersiwak,’’ tutur Ustadz Sobri.

AKTIFITAS | Santri Bersihkan Mushola Sekitar
 
AKTIFITAS
Saring Calon Santri Gelombang Dua
 Share       

Medio Februari lalu, Ponpes Daqu sibuk menerima calon santri baru. Termasuk Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Ungaran, Jawa Tengah. Tercatat 31 calon santri mengikuti ujian masuk gelombang ke-2 yang dilaksanakan pada Ahad, (14/2).

Para calon santri mengikuti rangkaian tes berupa membaca dan hafalan Al-Qur’an,praktek ibadah, doa sehari-hari, dan adzan.Selain itu para santri juga mengikuti tes Matematika, Bahasa Inggris, dan menjalani psikotes.

“Ibu, Bapak, banyak berdoa untuk anakanak calon huffadz, semoga niat Ibu dan Bapak mondokin anak-anak jadi aset ibadah kelak. Insya Allah, Ibu dan Bapak sudah memilih pilihan terbaik untuk pendidikan anak. Semoga anak Bapak Ibu betah dan menjadi penghafal Al Quran,” tutur Ustadz Yassa selaku pengasuh Ponpes Daqu Semarang dalam sambutannya. Ustadz Yassa juga memberikan tips agar orangtua ikhlas melepaskan anak untuk nyantri di pondok hingga meraih sukses.


 

AKTIFITAS | Saring Calon Santri Gelombang Dua
AKTIFITAS
Daqu Banyuwangi Gelar Istighatsah bersama warga
 Share       

Bertempat di halaman Pesantren Daarul Qur’an Banyuwangi di Desa Benelan Kidul, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, keluarga besar Pesantren Daqu Banyuwangi menggelar sholat istighotsah bersama warag sekitar, Sabtu malam (13/2).

Kegiatan ini diikuti 500-an masyarakat Banyuwangi sekitar pesantren, juga dihadiri Kepala Desa, Koramil, Kapolsek, Binmas Islam,Tokoh Masyarakat, dan Tokoh Agama setempat.Istighotsah dipimpin Ustadz Habib Musthofa selaku Kepala Program Tahfidz Ponpes Daqu Banyuwangi. Sedang taushiyah disampaikan Ustadz Muhammad Thohir Qolbi, Pengasuh Pesantren Tahfid Sunan Kalijogo, Tegal Dlimo.

Selain syiar dakwah Qur’an kegiatan ini bertujuan mengenalkan pesantren kepada masyarakat.

“Jika kita dekat dengan Al-Qur’an, Insya Allah lingkungan kita juga akan semakin baik,” ujar Ustadz Hendy Irawan Saleh selaku pengasuh Ponpes Daqu Banyuwangi.

Insya Allah Pesantren Tahfid Daarul Quran Banyuwangi akan memulai aktivitas pendidikan pada tahun 2018.

AKTIFITAS | Daqu Banyuwangi Gelar Istighatsah bersama warga
AKTIFITAS
DaQu School Kalibata City Gelar DaQu Edutainment
 Share       

Sabtu, 27 Februari 2016, Daqu School Komplek Apartemen Kalibata City menggelar Daqu Edutainment. Even ini terdiri sejumlah lomba seperti lomba bayi merangkak, mewarnai,tahfidz, baca doa harian, fashion show, menendang bola, dan lomba mengupas jeruk.

Sebanyak 500 peserta siswa-siswi taman kanak-kanan dan kelompok bermain di Jakarta Selatan, mengikuti kemeriahan ini. Menurut Haji Sukman, acara ini selain sebagai ajang silaturahmi juga untuk mengenalkan Daqu School kepada masyarakat.“Semoga kehadiran Daqu School di Kalibata City ini mampu memberikan oase bagi para orangtua yang ingin memiliki anak sebagai penghafal Al-Qur’an,” ujar Pengurus Daqu School tersebut.

Ustadz Sukman menambahkan, Tahfidz Al-Qur’an menjadi semangat dari Daqu School Kalibata City. Anak-anak dari mulai tingkat Daycare, Taman Kanak-kanak, hingga Sekolah Dasar didik dengan semangat untuk menjadi penghafal Al-Qur’an.

Kehadiran Daqu School di Jakarta Selatan disambut gembira aktor Epi Kusnandar. Pemeran Kang Mus dalam serial "Preman Pensiun" ini mengakui banyak nilai positif yang diraih anaknya, Que-Que, yang sudah masuk di sekolah ini sejak balita.

“Alhamdulillah, ada kebiasaan positif yang terbangun dari anak saya seperti doa-doa harian dan hafalan surat pendek yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Kang Epi. Ia menambahkan, bolehlah kita bercita-cita agar anak kelak menjadi yang terbaik dalam pelajaran, bisnis, atau dalam bidang lainnya.

"Tetapi yang paling penting dan jangan dilupakan adalah mendidik anak untuk menjadi yang terbaik di hadapan Allah SWT," tandasnya.

AKTIFITAS | DaQu School Kalibata City Gelar DaQu Edutainment
AKTIFITAS
Rapimnas Daarul Qur’an Konkretkan Langkah Wujudkan Dream 115
 Share       

Mewujudkan 100 pesantren yang tersebar di 100 kota dan berserak di 5 benua. Demikian goal akumulatif Daarul Qur’an pada tahun 2020 yang dikemas sebagai "Dream 115".

Mimpi tersebut menjadi acuan rapat kerja pimpinan nasional (rapimnas) Daarul Qur’an yang digelar di Hotel Siti pada 9-11 Februari 2016.Ketua Panitia Ustadz Hery Setyawan mengatakan, rapimnas diikuti seluruh Kepala Biro, Pengasuh Pesantren Daqu Pusat dan Cabang,Pengasuh Pesantren Takhasshus, Marketing Gallery, Unit Daqu Bisnis Nusantara, Daqu Training Center, dan Daqu Argotechno.

Dalam sambutan pembukaan rapimnas,Ustadz Ahmad Jameel menggariskan, "Dream 115" harus ditopang dengan riyadhoh yang kuat.Kemudian, penyerapan nilai visi dan misi lembaga diseimbangkan dengan aplikasi yang kongkrit seluruh program kerja. "Kerja-kerja kita harus selalu dievaluasi agar lebih smart dan sesuai prinsip low cost high result," tandas Pimpinan Harian Pesantren Daarul Qur’an Pusat.

Ustadz Jameel yang alumnus Pondok Gontor menjelaskan, smart berarti cerdas dan memenuhi kriteria specific, measurable, available, realistic, dan time-bound. Sementara itu dalam taushiyahnya Ustadz Anwar Sani berpesan agar seluruh unsur pimpinan dalam bekerja harus detail. "Pimpinan harus menjadi garda depan dalam setiap problem solving di unit masing-masing," tandas Ketua Daarul Qur’an.

Ketua Daarul Qur’an yang lain, Ustadz Tarmidzi, mengemukakan, "Dream 115" harus dibarengi dengan sistem kaderisasi yg komprehensif. Dalam hal ini, database holding menjadi sarana sosisalisasi efektif.Rapimnas Daarul Qur’an yang berlangsung selama tiga hari akan membahas program kerja eksisting dan evaluasinya. Demikian juga dibahas program kerja yang akan datang.

Hasil-hasilnya dirumuskan sebagai Rencana Strategis 2016- 2020. Sebagai spirit berjamaah, di akhir pembukaan rapimnas Ustadz Slamet Ibnu Syam memimpin doa kebersaman dan kesatuan hati serta kekuatan jiwa dalam berdakwah melalui bidang pendidikan.

 

AKTIFITAS | Rapimnas Daarul Qur’an Konkretkan Langkah Wujudkan Dream 115
AKTIFITAS
Sebelas Bulan di Rumah Tahfidz Jadi Hafidzoh
 Share       

Alhamdulillah, persis pada Ahad pekan ke-2 Februari lalu, Salsabila Firdausi khatam hafalan 30 juz Quran. Santri Rumah Tahfidz Putri Daarul Quran Surabaya inipun layak menyandang sebutan Al Hafidzoh.Firda, sapaan Salsabila Firdausi, khatam setelah mondok 11 bulan. Ia masuk RT Daqu Putri Surabaya sejak 18 Maret 2015.Untuk mensyukuri capaiannya, Keluarga Firda menggelar tasyakuran pada 20 Februari lalu di Rumah Tahfidz yang terletak di Perumahan Permata Safira, Lidah Kulon, Surabaya.

Hadir dalam acara itu, kedua orangtua Firda, Ustadz Alfaroby Al Hafidz selaku coordinator RT Centre Surabaya, ustadzah pembimbing, dan pengurus PPPA Daqu Surabaya.Hafidzoh remaja ini mengaku sudah bercitacita jadi Penghafal Quran sejak kelas 6 SD."Saya juga ingin mendirikan lembaga tahfidz," kata Firda yang sebelumnya pernah mondok di pesantren hingga hafal 3 juz. Hafalannya sempat terjeda lantaran Firda kena usus buntu.

Setelah rehat sekitar 7 bulan untuk pemulihan, Firda lalu masuk RT Putri Daqu Surabaya hingga menuntaskan hafalannya. Selayaknya orangtua Firda berbahagia atas prestasi sang putri. Salah satu sebabnya, kelak orangtua santri tahfidz akan terkejut mendapat surprise di Hari Kiamat, ketika tiba-tiba disemati jubah atau mahkota kemuliaan. Kejutan itu diberikan Allah SWT lantaran hafalan Qur’an anak-anak mereka (HR Al Hakim).Pun pembimbing RT Putri Daqu Surabaya,Ustadzah Rizky Amalia Al Hafidzoh, turut berbahagia atas raihan Firda."Alhamdulillah, santri-santri memang senang dan bersemangat dalam menghafal Al Quran," ujar Ustadzah Lia, nama panggilannya.

Firda menambah jumlah santri RT Putri Daqu Surabaya yang khatam hafalan Quran. Sebelumnya, sudah khatam duluan santri bernama Ulfa Zahrotul Widad dan Layly Abdidatuz Zahro. Kedua remaja ini kakak-beradik yang nyantri di rumah tahfidz selepas SMA.Berikutnya adalah Ihshavani Variha. Selain keempat hafidzoh remaja itu, tujuh santri belia Rumah Tahfidz Putri Daarul Qur’an Surabaya juga sedang menggenjot hafalan mereka; Fadhilah, Aulia, Maulidiniyah, Rahmawati,Fatimah, Wulandari, dan Islahiyah, sudah merampungkan hafalan Juz ‘Amma (juz 30).Ghirah para santri tersebut, antara lain dalam rangka mempersiapkan diri mengikuti Wisuda Akbar Indonesia Menghafal 7.Wisuda Akbar 7 akan digelar Daarul Qur’an pada Mei 2016 serentak di 8 kota di 8 Provinsi Indonesia.

AKTIFITAS | Sebelas Bulan di Rumah Tahfidz Jadi Hafidzoh
AKTIFITAS
 Pimpinan Republika Kunjungi Pesantren Daarul Qur’an

Pemimpin Redaksi Harian Umum Republika, Nasihin Masha, beserta jajaran manager bidang usaha, mengunjungi Pesantren Tahfidz Daarul Quran, Ketapang, Tangerang, Rabu (24/2) siang.

Kehadiran mereka disambut hangat jajaran pimpinan Yayasan Daarul Quran Nusantara.Silaturahim ini sekaligus merupakan kunjungan balasan, setelah sebelumnya Pimpinan PPPA Daarul bertandang ke kantor Republika. Didampingi Ketua Daarul Qur’an Ustadz Ahmad Jameel, Tarmizi Ash Shidiq, Anwar Sani, dan Ustadz Hendy Irawan, para tamu berkeliling pesantren.

"Republika sebagai media partner Daarul Qur’an, sudah seperti bagian tubuh kita sendiri,"tandas Tarmizi.Selepas Ashar berjamaah, tetamu disambut Ustadz Yusuf Mansur. Pendiri Pesantren Daarul Qur’an ini menyatakan, Republika sangat berjasa besar terhadap dirinya maupun Daarul Qur’an. Misalnya, Republika menetapkan Ustadz Yusuf Mansur dengan gerakan sedekahnya sebagai "Tokoh Perubahan 2007" bersama Deddy Mizwar (sineas dan artis, kini Wagub Jabar),

Habiburrahman El Shirazy (novelis genre Islam),Andrea Hirata (novelis Laskar Pelangi), Ratna Megawangi (penulis dan penggerak emansipasiproporsional wanita), dan Muhammad Maftuh Basyuni (Menteri Agama waktu itu). Media umat Islam ini setia menyertai perjalanan meraih mimpi demi mimpi Daarul Qur’an sebagai sumbangsih kepada Bangsa Indonesia."Nggak ada Daarul Qur’an kalau nggak ada (dibantu) Republika," tandas Ustadz Yusuf Mansur.

Nasihin Masha mengatakan, maksud kunjungan mereka terutama adalah mencari berkah. Keberkahan itu didapat dari kerjasama dalam kebaikan. Misalnya dalam memberikan edukasi tentang bahaya LGBT yang kian marak, juga menyikapi kepemimpinan nasional maupun daerah. Manager Sirkulasi Republika Haryadi Susanto berharap agar kerjasama kedua pihak ditingkatkan lagi, sehingga lebih member kemanfaatan dunia-akhirat.

AKTIFITAS |  Pimpinan Republika Kunjungi Pesantren Daarul Qur’an
AKTIFITAS

UIN SGD Sediakan Beasiswa Santri Tahfidz Daqu
 Share       

"Al Qur’an akan mengangkat kota kita dan negeri kita," demikian penegasan Ustadz Yusuf Mansur di depan ratusan mahasiswa dan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung, Selasa (1/3).

Kunjungan Ustadz Yusuf ke UIN SGD Bandung merupakan rangkaian saling-silaturahim kedua institusi. Ini merupakan kedatangan kedua Ustadz Yusuf, setelah kunjungan pertama dan dibalas kunjungan pimpinan UIN SGD Bandung ke Ponpes Daarul Quran Tangerang. Pada pertemuan ini, kedua pihak menandatanganan nota kesepahaman tentang Program Beasiswa Mahasiswa Tahfidz. Dekan Fakultas Saintek UIN SGD Bandung,Dr Opik Taufik, menjelaskan, program beasiswa ini diberikan untuk para santri alumnus Daarul Qur’an berdasarkan nilai akademik dan hafalan Qur’annya.

“Calon penerima beasiswa ini diuji prestasi akademik dan tahfidz-nya,” kata Opik yang mendampingi Rektor UIN SGD Bandung Profesor Mahmud. Sedang Ustadz Yusuf Mansur didampingi Ustadz Ahmad Jameel serta Biro Akademik Litbang Ustadz Darul Qutni.

AKTIFITAS |
UIN SGD Sediakan Beasiswa Santri Tahfidz Daqu
AKTIFITAS
Daarul Quran Gelar Pelatihan Budidaya Jamur Tiram
 Share       

Daqu Agrotechno, salah satu lembaga jejaring Yayasan Daarul Quran Nusantara, menggelar pelatihan budidaya jamur tiram (Pleurotus ostreatus) pada Sabtu-Ahad, 27-28 Februari lalu di kawasan Puncak, Jawa Barat.

Pelatihan yang diikuti 15 peserta terbatas itu berlangsung di Pusat Pengembangan dan Pelatihan Jamur Tiram (P3JT). P3JT didirkan oleh Daqu Agrotechno terletak di Desa Ciloto, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Di sini tersedia empat rumah jamur (kumbung) dengan kapasitas masing-masing 28.000 baglog (media tanam jamur), tempat pembiakan bibit jamur F0-F2, dan tempat penampungan jamur hasil panen.

Para peserta dari kalangan umum meliputi karyawan swasta, mahasiswa, dan ibu rumah tangga itu didampingi oleh mentor Nanda Erlangga dan Ustadz Samsudin. Mereka mendapat materi aspek spiritual pertanian dan pembibitan hingga pemasaran jamur tiram meliputi teori hingga praktek.‘’Islam sangat menghargai pertanian. Bahkan andai kita mengalami detik-detik jelang kiamat dianjurkan menyempatkan diri untuk menanam,’’tutur Ustadz Samsuddin mengutip sebuah hadits.

Doktor pertanian alumnus IPB itu menambahkan,dengan mengikuti pelatihan jamur ini, para peserta otomatis berkontribusi terhadap program pemuliaan Al Quran yang diselenggarakan Daarul Quran.Sedang Erlangga memaparkan faktor-faktor yang mempengaruhi pembudidayaan jamur tiram (oyster mushroom) meliputi lingkungan, media tanam, tingkat keasaman, kadar air, dan nutrisi.

Adapun teknis budidaya jamur tiram dimulai dari pengolahan media tanam, penanaman, pemeliharaan,pengendalian hama dan penyakit, panen dan passca panen. Usai pelatihan selama dua hari itu, para peserta masih mendapat layanan berupa konsultasi gratis tentang budidaya jamur tiram selama tiga bulan. Konsultasi berlangsung secara privat maupun berjamaah melalui grup media sosial.

Manager Marketing Communications and Events Daqu Agrotechno Dipa Ulhak menjelaskan, pelatihan ini merupakan salah satu program regular lembaganya. ‘’Kami memang membatasi peserta pelatihan hanya 15 orang, agar efektif,’’ katanya. Dari hasil evaluasi tertulis, para peserta pelatihan menyatakan puas. Menurut mereka materi yang diberikan cukup lengkap, fasilitas memadai, dan pelatihan berkesan.

Di penghujung acara, peserta bisa membawa pulang jamur tiram segar yang dipanen sendiri dari kumbung. Mereka juga membawa baglog jamur untuk coba ditanami jamur di rumah masing- masing. Informasi pelatihan lebih lanjut kunjungi http://daquagrotechno.org/pelatihan-budidaya- jamur-tiram/.

AKTIFITAS | Daarul Quran Gelar Pelatihan Budidaya Jamur Tiram
(899) views
AKTIFITAS
PESONA KUN ANTA
 Share       

"Rekor tayangan IG saya. Biasanya cuma ratusan, ini hamper tiga ribu," Tarmizi mengabarkan. Instagram yang Ketua Daarul Qur’an maksudkan adalah posting foto Humood Alkhudher di pentas Meet & Greet di aula Pesantren Daarul Qur’aTangerang, Sabtu, 5 Maret lalu.

Humood memang lagi ngetop. Sosok penyanyi asal Kuwait nan ganteng ini meroket lewat lagu yang dibawakannya, Kun Anta (Jadilah Dirimu). Audio official Kun Anta yang diunggah Awakening Record satu tahun yang lalu telah menembus jumlah tayang lebih dari 34 juta kali. Sedang video official lagu yang sama, dalam satu bulan diunggah telah ditonton lebih dari 2 juta kali.

Tentu saja Humood Alkhudher merasa senang dan bangga karena lagunya disukai tak hanya di Arab, tapi juga di Asia. Hal ini diungkapkannya melalui akun Instagram miliknya. “20 juta penonton di youtube terima kasih! Alhamdulillah, #KunAnta #Youtube! Terima kasih dukungan dan cintanya, salam Humood,” tulis Humood pada 5 Agustus 2015 saat videonya sudah ditonton 20 juta penggemar.

Selain Kun Anta, Humood juga telah merilis lagu lain seperti Keep Me True dan Lughat Al’Aalam, dan yang terbaru album Ahseer Ahsan. Humood Alkhudher lahir di Kuwait, 27 tahun silam. Ia dibesarkan di tengah keluarga yang berpendidikan. Ayahnya bergelar profesor bidang psikologi dan menerima ijazah doktoral di Inggris. Di Negeri Big Ben itulah Humood menghabiskan masa kanak-kanaknya.Penyanyi nasyid ini sangat dekat dengan ibunya. Sang ibu lah yang member pengaruh besar dan yang selalu mendukung perjalanan hidup Humood.

Sejak kecil Humood memang demen bernyanyi dan menyimak musik. Ini tak lepas dari pengaruh kerabatnya. Pria yang sudah mulai bernyanyi sejak usia 10 tahun ini memiliki paman seorang penyanyi terkenal. Humood seringkali mengikuti sang paman berkunjung ke studio rekaman. Dari sinilah ia banyak belajar tentang seni tarik suara dan musik.

Kini, Humood bergabung dalam label internasional yang telah mengorbitkan artis berkelas dunia seperti Maher Zain.Saat berkunjung ke Pesantren Daarul Qur’an, suami dari Mafaz Al Suwadian ini berpesan kepada para santri. "Setiap kita, manusia, memiliki kekuatan berupa potensi. Orang pintar adalah orang yang menggunakan semua potensi yang ada pada mereka agar bermanfaat bagi umat," tuturnya di hadapan seribuan santri yang menyesaki aula.

Menurut Tarmizi, Kun Anta memang syair yang layak disimak. Lagu ini mengajak agar kita tidak terpesona pada aksesoris dunia orang lain. Jadilah diri sendiri, dengan pancaran inner beauty yang kita miliki. Liujarihim, qoldat tu zohiru ma fihim.Fabadautu syakhsan aakhar, kai atafaa khar. Wa zonan tu ana, anni bizalika huztu ghina. Fawajad tu anni kha-sir, fatilka mazohir. La la, la nahtajul ma la. Kai nazdada jama la. Jauharna huna, fi qalbi talala. La la. Nurdhin nasi bima la. Nardhohu la na ha la. Za ka jamaluna. Yasmu yataa’la. Kun anta tazdada jamala.

AKTIFITAS | PESONA KUN ANTA
(901) views
Quranku
Menghafal Quran Sesuap sesuap {Ustadz Muhammad Halimi Ketua Bidang Tahfidz TK SD Full Day Daarul Quran}
 Share       

Faza adalah salah satu peserta Wisuda Akbar 6 pada 22 November 2015 di Masjid Istiqlal yang digelar PPPA Daarul Qur’an. Di hajatan nasional ini, bocah 7 tahun tersebut didaulat Ustadz Yusuf Mansur untuk naik ke atas panggung dan melafalkan hafalan Qur’an di hadapan ribuan orang dan para syeikh.

Santri Tasikmalaya itu membaca Qur’an bil ghoib, tanpa melihat. Orangtua mana yang tidak bangga memiliki anak seperti dia. Padahal, saat dilahirkan prematur pada Februari 2009, dokter bilang peluang bertahan hidup Faza hanya 0,005 persen. Beratnya Cuma 1,2 kg dengan panjang 15 cm. Bagian bagian tubuhnya belum lengkap. Nah, lalu bagaimana dengan kita? Sudah berapa yang sudah kita hafal? Bila hari ini usia kita sudah di atas 18 tahun dan belum ada niat untuk menghafal, patutlah Faza menjadi ”cambuk“ agar kita merasa malu.

Lalu tergerak untuk kapan lagi memulai. Jangan pernah menunda sebuah niat suci, karena kesempatan datangnya bukan dua kali. Jangan pernah putus asa bila diusia sekarang kita belum menjadi penghafal Quran. Masih ada beberapa tahun menuju usia 23 tahun, masa dimana sepanjang itu Quran lengkap diturunkan. Atau mungkin usia kita sudah di atas 30 tahun, jangan putus asa untuk menghafal. Sebab, Rosulullah mulai menerima wahyu dan menghafal baru di usia 40 tahun. Kalau usia kita sekarang 50 tahun belum selesai menghafal, juga jangan putus asa. Karena Rosulullah tuntas menerima wahyu di usia 61 tahun.

Untuk bisa menghafal, sepertinya perlu ada yang diubah mindset kita. Kebanyakan beranggapan, bahwa menghafal Quran itu sulit. Kalau kita menganggap Quran itu susah dihafal,maka memang yang terjadi adalah sulit beneran susah betulan. Boleh dicoba deh, he..he..he...

Tapi ketika keyakinan bahwa menghafal itu mudah, menghafal itu gampang, maka yang terjadi mudah beneran, mudah betulan,sebagaimana dalam Quran Allah sudah berfirman:

(vI) وَلَقَدْ يَسَّْنَا الْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ 

"Dan sungguh Aku mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran" (QS Al-Qomar : 17).

Dalam menjalankan aktivitas sehari hari,kadang kita lalai untuk menambah perbekalan hafalan Quran kita. Di tengah kesibukan mencari nafkah untuk keluarga, tak terasa hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun bertambah tahun namun hafalan kita tidak nambah nambah.Sungguh merugi orang yang usianya bertambah tapi tidak bisa berguna. Rosulullah berwasiat, "Siapa hari ini lebih baikdari hari kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung."

Sebelum mulai menghafal mari kita tengok saudara kita yang tuna netra. Banyak di antara mereka yang menjadi penghafal Quran.Subhananllah... Coba kita perhatikan bagaimana proses menghafalnya? Mereka buta tapi bisa menghafal dengan baik. Mereka menghafal bukan dengan cara melihat tapi dengan cara mendengar.Dari apa yang mereka dengar dari para hafidz, mereka dapat menghafal walaupun buta. Jadi setelah mendengar beberapa kali lalu diikuti bacaannya sedikit-sedikit sampai satu ayat.Maka kalau kita mau memfokuskan panca indra kita, tentu akan mudah dalam menghafal Quran. Inilah kemudian disebut dengan metode sesuap suap.

Misalnya, jika kita ingin menghafal salah satu juz dalam Quran, yang perlu kita perhatikan adalah jumlah baris dalam satu juz di mushaf pojok. Biasanya dalam mushaf Quran pojok, 1 juz tercantum dalam 10 lembar atau 20 halaman. Satu halaman terdiri 15 baris. Maka, satu juz terdiri 300 baris. Tentukan target dalam menghafal. Kalau 300 baris mau ditempuh dalam waktu 30 hari, berarti tinggal dibagi saja. Ketemunya, 10 baris perhari.Berarti, dalam sehari harus menghafal 10 baris.Tergantung kekuatan kita, seandainya dirasa berat tinggal dikurangi saja.

Jika ayat “idza waqo’atil waqiah” dirasa terlalu panjang untuk dihafal sekali jalan, maka cukuplah kata “idza” yang diulang ulang. Jika terlalu pendek, maka lanjutkanlah sampai “waqo’atil” diulang ulang sampai lancar. Jangan buru buru pindah sebelum lancar banget, kemudian lanjutkan sampai akhir ayat.

Usahakan ketika sudah hafal, ulangi beberapa kali setelah sehabis sholat fardhu. Minimal 20 kali pengulangan sehabis sholat untuk setiap ayat atau penggalan ayat, saya yakin kita insya Allah akan dapat menghafal dengan ringan dan mudah.

Wakafkan waktu kita pada Allah dalam menghafal. Bukan ujung ayat doang yang dihafal. Alokasikan berapa waktu khusus yang kita jadwalkan dalam sehari untuk menghafal.Minimal satu jam, syukur bisa lebih dari satu jam untuk bercengkrama dengan Quran. Niatkan dalam hati untuk menjadi penghafal Quran. Azamkan dalam diri sendiri “ketika saya meninggal dunia dalam keadaan penghafal Quran”. Syukur bisa 30 juz, setidaknya juz 30.

Sebab, sepandai apapun orang ketika tidak mempunyai niat menghafal Quran, ya nggak bakal terwujud.Bila kita sekarang ini punya keinginan untuk menghafal Quran, syukurilah karena ia adalah obor yang membantu kita melewati gelapnya malam menuju lorong panjang menuju taman surgawi yang abadi, mulailah dengan komitmen yang tinggi, kamaqola KH Mustofa Bisri: “Keraslah terhadap diri sendiri dalam melakukan kebaikan dan berlemah lembutlah dalam mengajak orang lain dalam kebaikan."

Setiap kesuksesan pasti diawali dari sebuah perjuangan dan pengorbanan. Setiap perjuangan dalam meraih kesuksesan pasti berhadapan dengan sekian banyak rintangan. Bukankah di dalam Al Quran Allah sudah menjamin bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahannya. Dan yang terakhir adalah doa. Boleh dengan perkataan yang lembut seperti doanya Nabi Zakariya as:

قَالَ رَبِّ إِنِّ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا

وَلَمْ أَكُن بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا

"Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu" (QS Maryam: 4).

Atau kita berdoa seperti doanya Nabi Ibrohim as:

رَبَّنَآ إِنَّكَ تَعْلَمُ مَانُخْفِي وَمَانُعْلِنُ وَمَايَخْفَى عَلَ اللهِ

مِن شَْءٍ فِ اْلأَرْضِ وَلاَفِ السَّمَءِ } 83 { الْحَمْدُ لِلَّهِ

الَّذِي وَهَبَ لِ عَلَ الْكِبَِ إِسْمَعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّ

لَسَمِيعُ الدُّعَآءِ } 93 { رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ

ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ } 04 { رَبَّنَا اغْفِرْ لِ وَلِوَالِدَيَّ

(14) وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ 

Atau berdoa dengan cara "memaksa" Allah: "Ya Allah jangan matikan hamba sebelum hafalan Quran hamba lancar." Setelah doa kita diijabah maka tingkatkan terus doanya: "Ya Allah, jangan matikan hamba sebelum berhaji ke Baitullah...."

Quranku | Menghafal Quran Sesuap sesuap {Ustadz Muhammad Halimi Ketua Bidang Tahfidz TK SD Full Day Daarul Quran}
Quranku
QURAN POJOK,APA ITU?
 Share       

Mengacu pada data yang disebut Ketua Umum LSM Ummi Maktum Voice, Entang Kurniawan, pada tahun 2010 terdapat sekitar 2 juta muslim tuna netra Indonesia (hidayatullah.com, 22/12/2010). Tentu,sekarang lebih banyak lagi. Alhamdulillah, walau tuna netra, saudarasaudara kita itu banyak juga yang pintar membaca, bahkan hafal, Al Qur’an. Jumlahnya ribuan.

Tentu saja, mushaf Qur’an yang mereka baca adalah mushaf spesial, yakni Al Qur`an Braille. Yaitu mushaf Qur`an yang ditulis dengan huruf-huruf Arab Braille, yang terbentuk dari titik-titik yang menonjol,seperti halnya huruf-huruf latin Braille. Pada mulanya penulisan al-Qur`an Braille ini dipelopori yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) Yogyakarta tahun 1964. Huruf Arab Braille yang disusun Yaketunis mengacu pada sistem Khath dan Imla`.

Pada 1974, Badan Pembina “Wyata Guna” Bandung menerbitkan pula Al Qur`an Braille berdasar Khath Utsmani. Untuk mengkompromikan kedu aversi Qur`an Braille tersebut, maka Departemen Agama dalam hal ini Puslitbang Lektur Agama Badan Litbang Agama, mengadakan musyawarah. Hasilnya, tahun 1977 disepakati lahirnya sebuah al-Qur`an Braille untuk seluruh Indonesia yang lalu ditetapkan sebagai al-Qur`an Standar Braille pada 1984.

Penetapan itu dituangkan dalam SK Menteri Agama Nomor 25 tahun 1984 tentang Penetapan Mushaf Standar. Ada tiga jenis mushaf standar yang secara resmi menjadi pedoman kerja bagi lajnah dan secara resmi dapat di diterbitkan dan diedarkan di Indonesia, yaitu: 1. Mushaf Al Quran Rasm Utsmani, 2. Mushaf Bahriyyah, 3. Mushaf Braille

Mushaf Al Quran Rasm Utsmani

Rasm Usmani disebut juga Rasmul qur’an atau Rasm Utsman adalah tata cara menuliskan Al Qur’an yang ditetapkan pada masa khlalifah Utsman bin Affan. Istilah rasmul Qur’an diartikan sebagai pola penulisan Al Qur’an yang digunakan Ustman bin Affan dan sahabat-sahabatnya ketika menulis dan membukukan Al Qur’an. Yaitu mushaf yang ditulis oleh panitia empat yang terdiri dari, Mus bin zubair, Said bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-harits. Mushaf Utsman ditulis dengan kaidah tertentu.Kaidah tersebut secara ringkas meliputi:

1. Al–Hadzf (membuang,menghilangkan, atau meniadakan huruf). Contohnya, menghilangkanhuruf alif pada ya’ nida’ ( .( يَآَ يها النا س

2. Al-Ziyadah (penambahan), seperti menambahkan huruf alif setelah wawu atau لyaيnئg mempunyai hukum jama’ ( بنوا اسرا ) dan menambah alif setelah hamzah marsumah (hamzah yang terletak di atas lukisan wawu ( .(تالله تفتؤا

3. Al-Hamzah, Salah satu kaidahnya bahwa apabila hamzah berharakat sukun, ditulis dengan huruf berharakat yang sebelumnya, contoh ( .( ائذن

4. Badal (penggantian), seperti alif ditulis dengan wawu sebagai penghormatan pada kata ( .(الصلوة

5. Washal dan fashl (penyambungan dan pemisahan),seperti kata kul yang diiringi dengankata ma ditulis dengan disambung ( .( كلما

6. Kata yang dapat di baca dua bunyi. Suatu kata yang dapat dibaca dua

bunyi,penulisanya disesuaikan dengan salah salah satu bunyinya. Di dalam mushaf ustmani,penulisan kata semacam itu ditulis نdeيnدgالa مn و ي Menghilangkan alif, contohnya,( ملك ). Ayat ini boleh dibaca dengan menetapkan alif (yakni dibaca dua alif), boleh juga dengan hanya menurut bunyi harakat (yakni dibaca satu alif). (Imam Al Suyuthi dalam Ahmad Malik Hammad, Miftah al-Aman fi Rasm Al Qur’an (td.). h. 147-156).

Mushaf Bahriyyah

Dalam penelusuran di Istanbul, Turki, Mushaf Al Qur’an Bahriyah terdapat dalam koleksi Beyazit Devlet Kutuphanesi, sebuah perpustakaan pemerintah, dengan nomor koleksi V 4119 M. Mushaf tersebut berukuran agak kecil, yaitu 17,5 x 10,5 dengan ketebalan 3 cm. Cover mushaf berwarna coklat dengan hiasan berbentuk segi empat dan motif floral yang dicapkan pada permukaan cover dengan teknik blind stamping (cap tanpa warna).

Halaman beriluminasi pada awal mushaf berisi Surah al-Fatihah dan Surah al-Baqarah ayat 1 – 5. Iluminasi bermotif floral dan geometris berwarna hijau, kuning, merah, dengan garis hitam. Khat yang digunakan adalah Naskhi yang sangat indah.’ Sistem penulisan Al Qur’an yang digunakan adalah “ayat pojok”, yaitu setiap halaman diakhiri dengan penghabisan ayat (Gambar3).

Setiap juz berisi 20 halaman, dan selalu diawali di halaman sebelah kiri. Sistem ini biasa digunakan dalam mushaf-mushaf dari Turki,khususnya dalam bentuk cetakan.Mushaf ini ditutup dengan doa Khatam Al Qur’an, dan sebuah kolofon dalam bahasaTurki yang menyatakan bahwa mushaf ini telah ditashih oleh badan yang berwenang.

Di bagian bawah halaman tashih ini terdapat tulisan “Matba’ah Bahriyah” dalam bentuk bulat.Sesuai angka yang terdapat dalam kolofon, mushaf ini dicetak pada tahun 1329 H (1910-1911).Bahriyah adalah badan percetakan milik Angkatan Laut Kesultanan Usmaniyah. Badan percetakan ini tidak hanya mencetak mushaf, namun juga buku-buku keagamaan lainnya, seperti fikih, tauhid, dan lain-lain.

Sejarah mengenai Matba’ah Bariyah belum banyak diketahui, namun diperkirakan bahwa percetakan ini telah aktif sejak akhir abad ke-19. Nah, di Indonesia, mushaf Qur’an Bahriyyah ini terkenal sebagai Mushaf Qur’an Pojok. Yaitu Qur’an yang dicetak dengan Rasm Ustmani dengan ciri-ciri sebagai berikut: • Satu juz terdiri atas 10 lembar atau 20 halaman (keculai juz 1 dan juz 30). • Satu lembar terdiri atas 15 baris. • Pada tiap halaman selalu diawali dengan awal ayat • Pada tiap halaman selalu diakhiri dengan akhir ayat (ditandai dengan nomor ayat). • Angka halaman pada setiap Juz selalu genap dan diakhiri dengan angka 2.

Penyebutan istilah “Alqur’an Pojok” adalah karena menggambarkan penulisan pada tiap halamannya yang selalu menampilkan ayat secara utuh, tidak terpotong ke halaman berikutnya. Jadi, pojok awalnya (kanan atas).

Quranku | QURAN POJOK,APA ITU?
(901) views
Halaman Akhir
Kematian yang Dirindukan Oleh : Tarmizi As Shidiq
 Share       

Jelang sholat Ashar, usai berwudhu saya mendapat kabar duka. Innalillahi...
Baba (Bapak) telah pergi menghadap Ilahi.Dengan dada terasa sesak dan nafas berat, sayapun memimpin sholat Ashardengan makmum kedua anak saya, Najla dan Aaisy.

Seusai shalat, dengan berlinang air mata dan suara parau, saya sampaikan kabar duka tadi kepada anak-anak. Lalu saya berkata kepada mereka, "Aaisy, Najla, yuk kita do'akan Baba, semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT. Al Fatihah...." Kemudian saya memimpin do'a yang diaminkan anak-anak. Selesai berdo'a, saya sedikit menceritakan perjuangan Baba dan Emak dalam mendidik dan membesarkan saya. Hal ini pernah saya tulis dalam salah satu buku saya. "Aaisy, Najla,yang dibutuhkan Baba sekarang adalah do'a dari kita yang masih hidup. Termasuk dari anak cucunya, Aaisy dan Najla, semoga cepat hafidz dan hafidzah, sehingga amal sholeh kalian juga mengalir buat Baba," tutur saya sambil tak kuasa menahan tangis.

Aaisy yang masih kelas 1 SD di Pesantren Daqu, tampak agak bingung melihat abi (bapak)-nya menangis. Sedang Najla kakaknya yang kelas 4 di pesantren yang sama, sudah memahami orangtuanya.Wajahnya menyiratkan rasa haru. Saya memperkenalkan kematian sejak dini kepada anakanak, agar mereka mengerti setiap yang bernyawa pasti akan mati. Sebagaimana firman Allah SWT: "Setiap yang bernyawa pasti akan mati" (QS Ali Imran: 185). Dan kapan waktunya ajal tiba, hanya Allah SWT yang tahu (QS Al Imron: 145), (QS Az Zumar: 42), dan tidak ada yang dapat memajukan maupun mungundurkannya (QS Al A'raf: 34).

Dengan memahami kematian yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, maka para shahabat menjadi tidak takut akan kematian. Bahkan mereka merindukannya. “Tidak satupun di antara kami yang tidak membenci kematian,” jawab A‘isyah ra ketika Nabi Muhammad SAW bertanya tentang bisyarah (peringatan) kematian (HR Bukhari no. 6950, Muslim no. 4845). Sahabat bernama Khabbâb mengatakan, “Kalaulah Rasulullah SAW tidak melarang, maka aku akan berdoa supaya cepat mati" (HR Bukhari dan Muslim, dari Qais bin Abu Hazim ra).

Orang-orang yang senantiasa ingat mati serta mempersiapkandiri dengan sebaik-baiknya menyongsong kematian, disebut Rasulullah sebagai orang yang paling cerdas. “Manusia yang paling cerdas adalah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka itulah orangorang yang benar-benar cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat" (HR Ibnu Majah).

Maka, tidak ada jalan lain, kita harus memanfaatkan hidup kita, umur kita, masa muda kita, sehat kita dengan sebaik-baiknya,sebelumnya semua lenyap dan berakhir. "Pergunakan lima sebelum datang lima yang lain: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa kayamu sebelum tiba miskinmu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu dan hidupmu sebelum tiba kematianmu" (HR Baihaqi).

Setelah mati, tidak ada lagi kesempatan. Kesempatan hanya diberikan sekali. Sesal kemudian sungguh-sungguh tidak berguna. "Bila seseorang mati maka terputuslah pahala amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah,ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendo'akannya" (HR Muslim no. 1631).

Maka bagi orangtua,adalah kebahagian yang luar biasa jika diakhir hidupnya meninggal dengan didampingi oleh keluarganya, yang terus mendo'akannya walau telah berpisah alam kehidupan.Bagaimana dengan kita saat menghadapi kematian? Bahagiakah? Senangkah?Bagaimana dengan keluarga kita? Suami, istri, dan anak-anak kita?Semoga saya, istri saya, anak-anak cucu saya, dan kita semuanya, tergolong manusia yang cerdas dalam menghadapi akhir hayat, sehingga bukannya takut tapi malah merindukan kematian.

Halaman Akhir | Kematian yang Dirindukan Oleh : Tarmizi As Shidiq
(903) views
(902) views
(899) views
(901) views
(904) views